Weibo, Sensor Baru China

Anda Nurlaila

VIVAnews – Ungkapan apalah arti sebuah nama ternyata sangat bergantung dari tempat berpijak. Di China, sebuah peraturan baru memuat ketentuan: semua pengguna sosial media Sina Weibo–yang mirip situs mikroblog Twitter– wajib menggunakan nama asli dalam akun.

Pemerintah komunis rupanya punya tujuan, mencegah komentar negatif terhadap pemerintah. Otoritas setempat mewajibkan 250 juta pengguna Weibo untuk mendaftar ulang dan mencantumkan nama asli, nomor telepon dan nomor kartu identitas mereka.

Kalau tidak, dipastikan pemilik akun takkan bisa menulis status apapun di sosial media mirip Twitter tersebut. Namun aturan ditanggapi dingin pengguna sosial media China. Hingga berakhirnya daftar ulang Jumat malam 16 Maret pekan lalu, hanya 19 juta pemilik akun yang menaati aturan pemerintah dan memverifikasi akun mereka.

Langkah yang dikeluarkan di Beijing akhir tahun 2011 dilakukan guna memudahkan mencari dan menangkap para pemilik akun yang menulis hal-hal negatif tentang pemerintah. Kebijakan memperketat Weibo menyusul menyusul popularitas Weibo yang kian menggantikan fungsi informasi televisi dan koran.

Layaknya sosial media, Weibo menjadi wadah berbagi berita, gosip, hiburan, skandal hingga opini warga China. Beberapa peristiwa menegaskan makin terasanya pengaruh Weibo terhadap kebijakan pemerintah komunis.

Salah satu buktinya, kecelakaan kereta cepat di Wenzhou Juli tahun lalu. Ribuan pengguna Weibo menuntut investigasi transparan, memaksa pemerintah beberapa kali mengubah informasi yang telah mereka sampaikan.

Weibo menjadi satu-satunya alternatif sosmed di China setelah Twitter dan Facebook dibredel sejak beberapa tahun lalu. Pengguna Weibo diperkirakan 320 juta akun aktif. Tidak hanya masyarakat sipil, sekitar 50.000 pegawai pemerintah, partisan partai komunis, dan pejabat tinggi memiliki akun mereka di sosmed ini.

Dikutip dari New York Times, China adalah negara dengan pengguna internet terbesar. Akses internet lewat mobile diperkirakan mencapai satu miliar, dan pengguna internet mencapai 513 juta.

Kebijakan ini dibayangi ancaman menurunnya pendapatan Sina Corp, operator Weibo. Sina yang terdaftar di indeks Nasdaq diperkirakan memiliki pendapatan bersih US$101 juta- US$104 juta pada kuartal pertama 2011.
Pendapatan bersih pada kuartal keempat 2011 tumbuh 21 persen menjadi US$13,4 juta atau US$0,14 per lembar saham.

Beda Lokasi, Beda Standar
Saat pertama kali muncul pada era 1990-an fenomena internet dan email masih memunculkan keraguan bagi sebagian besar penggunanya untuk menggunakan identitas asli. Sebagai ganti, nama panggilan dipakai untuk melindungi anonimitas.

Seiring waktu dan meluasnya bisnis dalam jaringan, penggunaan nama asli makin umum digunakan. Fenomena yang sama terjadi pada sosial media.

Investor Spot merilis sebuah riset dari Chubb & Son Opinion Research 2011. Hasilnya menunjukkan semakin kecil pengguna jaringan sosial media yang menggunakan nama panggilan atau alias di AS. Hingga pertengahan 2010, tersisa 13 persen orang yang menggunakan nama panggilan.

Di Amerika, mirip dengan email, pengguna sosial media seperti Facebook dan Twitter lebih nyaman menggunakan nama asli untuk mewakili diri mereka.
Hal sebaliknya terjadi di China. Sensor yang luas merupakan ancaman besar bagi kebebasan berekspresi. Sehingga banyak pengguna yang menggunakan julukan atau ‘nama asli’ di sosmed. Sebagian besar pengguna sosmed di China lebih suka berkomunikasi dengan nama palsu. (eh)

http://fokus.vivanews.com/news/read/297296-mengukur-arti-sebuah-nama-di-sosial-media

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: