Wen Jiabao Serukan Demokrasi, Desak Reformasi

Perdana Mentri China Wen Jiabao menyerukan urgensi reformasi di sistem politik negaranya hari Rabu, mengatakan demokrasi di negara satu partai adalah hal yang “tak terelakkan” dalam sebuah wawancara televisi yang tak biasanya “terus terang,” wawancara ini meninjau kembali deklarasi reformasi sebelumnya

Enlarge Close (Photo: Reuters)

Perdana Mentri China Wen Jiabao menyerukan urgensi reformasi di sistem politik negaranya hari Rabu, 14 Maret. Wen memperingatkan negaranya harus mengubah “struktur kepemimpinannya” atau menghadapi resiko terulangnya hari-hari kelam Revolusi Budaya yang terjadi pada tahun 60-an.

“Kesalahan seperti Revolusi Budaya dapat terjadi kembali. Setiap pejabat pemerintah atau anggota partai yang memiliki rasa tanggung-jawab harus mengenali hal ini,” ujarnya, berdasarkan Daily Telegraph.

Walau komentar Wen terdengar provokatif, ia pernah membuat tawaran reformasi politik sebelumnya.Misalnya, pada tahun 2007, dalam sebuah konferensi pers di Kongres Rakyat Nasional, ia menyatakan “demokrasi adalah salah satu dari tujuan dasar sistem Sosialis.”

Pada tahun berikutnya, Wen mengakui bahwa demokrasi China perlu dirombak dan bahwa kekuasaan “benar-benar milik rakyat.”
Walau kadang perkataannya memancing amarah elemen-elemen konservatif dalam Partai Komunis China (yang pernah menyensor komentarnya setidaknya dua kali), deklarasi dari Wen ini belum membawa perubahan yang berarti untuk reformasi.

Akan tetapi, beberapa kritikus, telah bereaksi pada komentar terbarunya ini secara hati-hati tapi optimis. Nicholas Bequelin, periset senior Asia di Human Rights Watch mengatakan pernyataan terus-terang ini merupakan indikasi terkuat dimana perdana mentri ini serius mengenai reformasi.

“Referensinya akan resiko Revolusi Budaya baru merupakan pernyataan terkuat yang pernah dibuat oleh Wen Jiabao akan urgensi pengadaan reformasi politik,” ujarnya berdasarkan laporan China Post.

“Reformasi politik bukan berarti demokratisasi melainkan serangkaian reformasi yang melampaui technocratic thinkering – menetapkan aturan nyata dari hukum, enfranchising workers.”

Willy Lam, pakar dari Chinese University of Hong Kong mengatakan bahwa retorika Wen sedikit hubungannya dengan reformasi struktural secara luas, dan lebih banyak kepada pergumulan antara Partai Komunis dan Pemerintah.

“Substeksnya adalah bahwa partai memiliki terlalu banyak kekuasaan, partai turut campur dalam pekerjaan pemerintah,” jelasnya pada Agence France Presse.”Ia ingin menegaskan kembali pentingnya pemisahan kekuasaan dan pemerintah.”

Wen akan habis masa kepemimpinannya pada akhir tahun ini, oleh karenanya, ia tidak akan menderita banyak kerugian lewat pernyataan provokatif yang dibuatnya mengenai reformasi dan demokrasi. Wen juga menentang beberapa masalah yang timbul di abad ke-21 di China, termasuk gap sosial, korupsi institusi dan ketidakpercayaan publik yang dalam terhadap pemerintah.

Menghadapi kritik atas perannya, Wen mengambil sikap merendah, dengan nada memohon maaf dalam wawancaranya. “Oleh karena ketidakcakapan saya, institusi dan faktor lainnya, masih banyak ruang yang perlu dibenahi dalam pekerjaan saya. Saya sering merasa banyak pekerjaan yang masih perlu diselesaikan, banyak hal yang belum di wakili dengan benar, dan ada banyak penyesalan,” ujarnya.

http://id.ibtimes.com/articles/4638/20120315/wen-jiabao-menyerukan-demokrasi-mendesak-reformasi-politik-china.htm

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: