Perang China Terhadap Kebebasan Informasi

Oleh: He Qinglian*

Microblogs dengan cepat menyebar dan menyusut sebagaimana halnya harapan terhadap sarana untuk bebas berekspresi di China. Setelah Twitter, Facebook, dan sosial network lainnya memainkan peran kunci dalam pemilihan umum Sudan pada April 2010, rezim China menyadari akan bahaya posting dari microblogging terhadap kekuasaannya.

Pada Konferensi Penelitian Internet ke-8 China yang diadakan pada bulan Juni 2010 di Universitas Beijing, membahas “Politik Twitter” dan “Sinkronisasi Sifat Dasar Microblogging.”

“Politik Twitter” mengacu pada bagaimana sebagian besar orang China secara politik aktif, termasuk pembangkang di luar negeri dan aktivis demokrasi, dimana semua adalah pengguna Twitter. Kata-kata dan diskusi dari individu-individu ini mempengaruhi media online China dan media tradisional lainnya.

“Sinkronisasi Sifat Dasar” mengacu pada bagaimana beberapa orang dapat menghubungkan adegan protes dengan diskusi online secara langsung.

Meskipun rezim menyaksikan bagaimana para microblog memiliki potensi untuk menyebarkan informasi di luar kontrolnya dan untuk memobilisasi orang, empat domain terbesar China diijinkan untuk membuka layanan microblogging online. Kepentingan finansial mendesak para microblog, dan Beijing yakin pada kemampuannya untuk menjinakkan Internet, dengan pengalaman bertahun-tahun di dalam pengendaliannya.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, China memasuki usia emas microblogging-nya.

Administrator domain tampaknya telah menghabiskan cukup banyak upaya dalam meyakinkan rezim bahwa para microblog memberikan manfaat bagi negara.

“Laporan Tahunan Nasional Pertama Penggunaan Microblog Pemerintah,” yang diterbitkan pada 10 Januari melaporkan bahwa tahun 2011 adalah akun Weibo untuk “Tahun Pertama Microblogs Pemerintahan China,” oleh instansi pemerintah atau para pejabat yang meningkat 200 persen dibandingkan tahun 2010.

Microblog SINA (juga dikenal sebagai Weibo) mengkonfirmasi hampir 20.000 akun Weibo oleh agensi-agensi negara dan para pejabat. Berdasarkan angka-angka ini, rezim tampaknya akan mencoba untuk membangun Weibo menjadi platform untuk “meningkatkan hubungan antara para pejabat dan masyarakat umum,” sebagaimana mestinya yang disarankan oleh laporan tahunan.

Para Netizen China, pejabat pemerintah, warga biasa, dan bahkan pengamat asing, semuanya telah menekankan kemampuan Weibo atas “pembahasan managemen pemerintahan,” tap masing-masing kelompok memiliki pemahaman yang berbeda mengenai apa artinya ini.

Banyak pejabat pemerintah menjadi bahan tertawaan setelah membuka akun Weibo. Seorang pejabat Provinsi Jiangsu ketahuan sedang chatting dengan wanita simpanannya di microblog-nya. Microblog Guo Meimei (20) mem-posting bualan tentang kekayaannya dan koneksinya ke Palang Merah yang membuat malu keseluruhan Palang Merah China.

Meskipun berupaya untuk mengendalikan opini publik atas para microblog, rezim masih mendorong para pejabat untuk membuka microblog, bahkan mengadakan kelas pelatihan microblogging, berharap untuk meningkatkan interaksi antara para pejabat dan masyarakat umum dan meningkatkan citra negara.

Namun, akun microblog para pejabat ini memiliki efek yang sangat sedikit. “Dalam microblog pemerintah, sepertiga tidak pernah mem-posting pesan apapun, dan lebih dari setengah membuat kurang dari 10 posting,” China Economic Weekly melaporkan pada Desember lalu.

Beberapa sarjana daratan yang peduli tentang negara, termasuk beberapa media profesional yang aktif, telah menggunakan microblog untuk menyebarkan advokasi untuk kebebasan dan cita-cita demokrasi. Beberapa sarjana dan profesional media memiliki puluhan ribu penggemar. Pengaruh mereka pada microblog jauh melebihi selebriti dan bintang olahraga. Beberapa akun ini diawasi ketat oleh rezim dan sering ditutup.

Setelah membandingkan media sosial di China daratan dan Amerika Serikat, beberapa pengamat menemukan bahwa kecenderungan politik microblog China mungkin disebabkan karena perbedaan sistem sosial dari kedua negara.

Nielsen, perusahaan riset media, mempublikasikan sebuah studi perbandingan microblog China-AS, menunjukkan kalau media tradisional di China diblokir, sehingga membuat kemampuan unik para microblog yang mendistribusikan informasi sangat menarik bagi para pengguna biasa.

Kemampuan unik ini telah dijinakkan. Di bawah pengawasan ketat rezim China, kemampuan politik para microblog di China telah banyak dihancurkan.

Weibo memiliki pengaruh politik paling sukses setelah terjadinya kecelakaan kereta api berkecepatan tinggi di Kota Wenzhou pada Juli 2011. Para netizen segera mem-posting segala macam informasi dan gambar setelah kecelakaan, menunjukkan kepada masyarakat umum apa yang telah terjadi. Setelah itu, kontrol rezim China terhadap Weibo ditingkatkan.

Selama insiden di desa Wukan, Provinsi Guangdong, pada musim gugur 2011, ketika para penduduk desa mengusir para pejabat Partai, rezim menyensor semua kata-kata yang berhubungan dengan insiden itu dan melarang beberapa akun berpengaruh Weibo untuk mem-posting komentar apapun.

Misalnya, akun Weibo saya tidak diijinkan untuk upload artikel, dan saya hanya bisa membaca pesan. Dengan langkah-langkah ini, rezim telah menghentikan “sifat dasar sinkronisasi” para microblog untuk menjadi aktif kembali.

Untuk mengurangi risiko para microblog ke minimum, mulai Desember 2011 rezim mengharuskan identifikasi personal untuk setiap akun microblog. Domain-domain utama menutup beberapa akun microblog yang terlihat secara politik sensitif. Ke-empat akun Weibo yang saya miliki di China telah ditutup semuanya. Setelah langkah-langkah ini, banyak akun Weibo yang tidak terdaftar dengan identitas aktual para pengguna ditutup.

Di sebuah negara normal, entitas mendasar pemerintah harus berkomunikasi dengan masyarakat umum. Dalam perang untuk mengontrol kebebasan pers dan informasi, Beijing telah memenangkan sejumlah pertempuran. Tapi saya yakin pada akhirnya ini tidak dapat menghindari kerugiannya. (EpochTimes/khl)

Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Mandarin di website Chinese Human Rights Bi-Weekly (biweekly.hrichina.org) dengan singkatan.

*He Qinglian adalah seorang ekonom dan penulis terkenal China. Saat ini berbasis di Amerika Serikat, dia telah menulis “China’s Pitfalls,” yang menyangkut korupsi dalam reformasi ekonomi China pada tahun 1990-an, dan “The Fog of Censorship: Media Control in China,” yang membahas manipulasi dan pembatasan pers.
http://www.erabaru.net/opini/65-opini/29408-perang-china-terhadap-kebebasan-berbicara

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: