China akan Hadapi Krisis Tanpa Reformasi Ekonomi


China akan menghadapi krisis ekonomi dalam 20 tahun ke depan jika Beijing tidak cepat merombak model pembangunan, Bank Dunia dan peneliti pemerintah China memperingatkan pada Senin (27/2).

Ekonomi terbesar kedua di dunia berada di sebuah “titik balik” dan kebutuhan untuk reformasi yang sangat mendesak, para analis mengatakan dalam sebuah laporan memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan berkurang separuh dalam dua dekade berikutnya.

China harus membuat sejumlah perubahan, seperti menata ulang perusahaan besar dan kuat milik negara, memecah monopoli di sektor-sektor strategis sehingga lebih mudah bagi perusahaan kecil untuk mengakses pembiayaan, kata mereka.

“China bisa menunda reformasi dengan risiko kemungkinan krisis ekonomi di masa depan atau bisa melaksanakan reformasi secara proaktif,” menurut laporan ” China 2030 ” yang dibuat oleh Bank Dunia dan Pusat Penelitian Pengembangan di bawah Dewan Negara, kabinet China.

“Perubahan kebijakan proaktif adalah kunci keberhasilan ekonomi China dan seruan pembaruan dalam negeri tidak pernah dikumandangkan.”

Setelah rata-rata pertumbuhan tahunan 10 persen selama 30 tahun terakhir, ekspor China dan investasi berbasis model ekonomi tidak lagi berkelanjutan, Presiden Bank Dunia Robert Zoellick mengatakan pada peluncuran hasil penelitiannya.

“Kasus reformasi adalah menarik karena China kini telah mencapai titik balik dalam jalur pembangunannya,” kata Zoellick dalam konferensi di Beijing.

“Model pertumbuhan negeri ini tidak berkelanjutan. Ini bukan saat untuk melewati kebingungan. Saatnya untuk siap sebelum kejadian dan beradaptasi dengan perubahan besar pada ekonomi dunia dan nasional.”

Laporan itu didukung oleh Wakil Presiden Xi Jinping dan Wakil Perdana Menteri Li Keqiang, yang diperkirakan akan menggantikan Presiden Hu Jintao dan PM Wen Jiabao selama transisi besar kekuasaan yang dimulai pada akhir tahun ini.

Meskipun ada dukungan tingkat tinggi, laporan itu kemungkinan menghadapi perlawanan dari orang-orang yang punya “kepentingan,” Zoellick mengatakan.

“Reformasi tidak mudah – mereka sering menghasilkan kemunduran,” katanya.

Liu Shijin, wakil menteri dari Pusat Penelitian Pembangunan, mengatakan reformasi yang diperlukan sebagai kekuatan Asia dengan pertumbuhan tahunan melambat 5-6 persen dalam 20 tahun ke depan dari sembilan persen saat ini.

Pemimpin China sering berbicara tentang perlunya reformasi model ekonomi negara itu, sebagian dengan mengurangi ketergantungan pada ekspor dan meningkatkan konsumsi domestik.

Namun reformasi yang signifikan sangat lambat ketika pemimpin terobsesi stabilitas mencoba untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang pesat dilihat lebih pentingnya untuk menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi 1,3 miliar orang di negara itu dan tetap menutup rapat terjadinya gejolak kerusuhan.

Beijing melarang atau membatasi investasi asing di sektor-sektor tertentu seperti otomotif, energi, keuangan, perbankan dan telekomunikasi, yang memancing kecaman dari pesaing luar negeri atas kurangnya akses pasar dan perlakuan tidak adil.

Di dalam negeri, perusahaan swasta sering mengeluhkan kurangnya kompetisi dan fakta mereka tidak dapat mengakses pembiayaan dari bank komersial, yang lebih suka meminjamkan uang untuk perusahaan besar milik negara.

Laporan tersebut juga mendesak Beijing untuk mengusahakan sistem perbankan dan secara bertahap menghapus kontrol suku bunga.

Rekomendasi lainnya menyerukan inovasi yang lebih besar, lebih lanjut reformasi kesejahteraan sosial, perlindungan yang lebih baik untuk hak atas tanah petani dan insentif pasar untuk mendorong perusahaan dan rumah tangga untuk mengadopsi teknologi hijau.

“Tindakan konkret” seperti ini yang diperlukan China yang mengusahakan pertumbuhan ekonomi “didasarkan pada stabilitas”, kata Li Wei, Menteri Pusat Penelitian Pengembangan.

Meskipun krisis zona euro yang sedang berlangsung dan kelemahan di Amerika Serikat, Zoellick mengecilkan kekhawatiran akan bencana ekonomi di China dalam waktu dekat.

Ada “titik stres yang akan meluas dari waktu ke waktu daripada (berubah menjadi) suatu krisis,” kata Zoellick, meramalkan soft landing untuk kekuatan Asia.

Tapi dia mengakui bahwa “akan ada gangguan implementasi” dari reformasi. (AFP/man)

http://www.erabaru.net/top-news/36-news1/29602-china-hadapi-krisis-tanpa-reformasi-ekonomi

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: