China Selamatkan Kapitalisme?

René L Pattiradjawane

”It is now up to China to save capitalism” judul salah satu tulisan opini The Telegraph terbitan Inggris, akhir bulan Januari 2012. Sekarang tergantung China untuk menyelamatkan kapitalisme. Ini menunjukkan betapa krisis ekonomi keuangan global diprediksikan akan mencapai titik yang tidak memiliki jalan keluar.

Pertanyaannya, apakah China mampu dan mau menyelamatkan kapitalisme yang porak-poranda sejak krisis keuangan global tahun 2007. Resesi global tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Kalau krisis globalisasi sekarang ini tidak mencapai jalan keluar pada tahun 2012 ini, persoalan lebih besar akan menghadang. Ini tidak hanya meluluhlantakkan ekonomi dan keuangan dunia, tetapi juga sistem kepercayaan sosial-politik yang menopang kapitalisme global ikut terseret ke dalam krisis.

Para analis di China melihat persoalan globalisasi sekarang tidak hanya urusan ekonomi dan keuangan, tetapi juga krisis politik dan institusi ketika berbagai pemerintahan di Eropa tidak bisa menyelesaikan krisis.

Tahun 2012 bagi China menjadi krusial sebagai tahun pergantian elite kepemimpinan lewat Kongres ke-18 Partai Komunis China (PKC). Presiden RRC Hu Jintao yang juga menjabat sebagai Sekjen PKC dan PM Wen Jiabao akan digantikan oleh Wakil Presiden Xi Jinping dan Wakil PM Utama Li Keqiang sebagai generasi kelima penerus takhta komunisme.

Para pengamat di Eropa dan AS berharap pemimpin baru China bisa menghadirkan keterbukaan terhadap gagasan-gagasan dan nasihat untuk mengeksekusi prioritas negara dengan penduduk 1,3 miliar orang ini.

Persoalan yang dihadapi Xi Jinxing yang menikah dengan seorang Mayor Jenderal Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) Peng Liyuan, penyanyi soprano terkenal pelantun lagu-lagu rakyat China, dipastikan lebih besar dan rumit dari pendulu.

Yang menarik dari pergantian generasi kepemimpinan di China ini setidaknya ada dua hal. Pertama, Xi Jinping dan Li Keqiang mewakili status generasi kepemimpinan yang berbeda dengan sejarah elite politik China. Xi Jinping masuk kategori ”pangeran politik” (taizi).

Ayah Xi adalah mantan Wakil PM Xi Zhongxun, seorang komunis revolusioner dan juga pelaksana pertama zona ekonomi khusus Shenzhen. Ayah Xi pernah dipenjara 16 tahun oleh Mao Zedong pada masa Revolusi Kebudayaan.
Li Keqiang mewakili generasi yang disebut tuanpai, faksi penting pendukung Presiden Hu Jintao, yang menguasai elite politik di China. Li mewakili kepentingan elite PKC berbasis organisasi massa.

Pemimpin tanpa gejolak
Kedua, faksionalisme dalam tubuh PKC adalah bagian dari sejarah politik komunisme China sejak masa Mao Zedong. Berbeda dengan pendahulunya, faksionalisme China di era globalisasi memiliki mekanisme perimbangan kekuatan politik tersendiri. Ada keistimewaan China, yakni menghadirkan pemimpin baru tanpa gejolak seperti terjadi pada tahun 2002 ketika Hu Jintao mulai berkuasa sebagai generasi keempat.

Transisi menuju kepemimpinan generasi kelima PKC juga akan menghadirkan persoalan baru. Bagaimana mereka mentransformasikan China di tengah globalisasi yang membawa apa yang disebut Francis Fukuyama penulis buku The End of History and the Last Man.

Di bawah Xi Jinping dan Li Keqiang, China harus melakukan transisi fundamental dari kekuatan yang berbasis ekspor, padat karya, serta model pertumbuhan ekonomi investasi tetap menuju model ekonomi konsumsi dan inovasi domestik. Tidak ada yang bisa memprediksi apakah kepemimpinan China yang baru ini mampu melakukan transformasi masif ini.

China kembali akan bereksperimen dengan sebuah transformasi sosial yang membutuhkan waktu satu abad di negara-negara Barat dan 40-50 tahun di Jepang dan Korea Selatan. Migrasi kependudukan melalui urbanisasi masif akan menjadi migrasi paling intensif dalam sejarah umat manusia menuju kota-kota baru di seantero daratan China.

Kita masih terus menganggap kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai sistem yang efisien dewasa ini dalam memecahkan persoalan-persoalan ekonomi, politik, dan sosial di berbagai negara dunia. China pun demikian, melihat asas komunisme (walaupun tanpa sama rasa dan sama rata) melalui bentuk baru kapitalisme negara menjadi kunci penting bagi rakyat China.

Akan tetapi, di sisi lain, perubahan kekuatan teknologi yang luar biasa (extraordinary), melalui kekuatan komputasi, komunikasi instan, intelegensia semu, bioteknologi, dan teknologi nano telah menciutkan dan mengecilkan planet bumi serta menghadirkan homogenisasi bangsa-bangsa menjadi sebuah kesatuan. Dan China pun ada di dalamnya.
http://internasional.kompas.com/read/2012/02/04/03485782/China.Selamatkan.Dunia

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: