China Tak Akan Jadi Superpower


Douglas H. Paal, pakar dari Carnegie Endowment percaya Asia butuh AS untuk tandingi China. Douglas Paal (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

Kawasan Asia membutuhkan peran Amerika Serikat sebagai penyeimbang kekuatan besar menandingi China. Jika tidak ada AS, maka bisa dipastikan China akan malin agresif, terutama di kawasan Laut China Selatan. Hal ini disampaikan oleh Wakil Presiden Carnegie Endowment untuk Perdamaian Internasional, Douglas H. Paal, Minggu, 26 Juni 2011. Douglas adalah pakar soal China di lembaga kajian internasional yang prestisius berbasis di Amerika Serikat itu. Tentang isu Laut China Selatan, dia mengatakan China telah berulangkali mengambil wilayah di Laut China Selatan.

Menurutnya, perebutan wilayah itu dilakukan ketika kekuatan AS mulai menyingkir dari kawasan tersebut. Saat ini, ujar Douglas, AS masih berperan penting dalam memastikan kejadian serupa tak terulang lagi. AS, tambah dia, juga menyadari perkembangan teknologi persenjataan yang pesat di China. Alih-alih menjadikannya ancaman, Douglas mengatakan AS akan mengambil kesempatan ini untuk menjalin kerja sama. Berikut petikan wawancara lengkapnya.

Pada 1 Juli mendatang Partai Komunis China akan merayakan ulang tahunnya yang ke 90. Apakah ini akan jadi momentum bagi terwujudnya demokrasi di China?

Partai komunis adalah partai diktator, bukan partai yang menjunjung tinggi demokrasi. Itu telah menjadi prinsip mereka sejak lama. Tapi seiring dengan waktu, mereka membentuk apa yang disebut oleh orang China, demokratisasi internal partai.
Sedikit banyak demokrasi internal ini memberikan banyak harapan bagi warga China dan komunitas internasional. Banyak orang-orang di luar China mengatakan negara ini akan seperti Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, dimana demokrasi tumbuh subur dan pesat. Tapi hal ini sepertinya masih akan lama terjadi. China tidak akan memperbolehkan adanya dua atau tiga partai lainnya di negara tersebut. Mereka tak akan mentolerir adanya oposisi.

Semua aktivis HAM mengatakan China tak mengalami kemajuan apapun dalam beberapa tahun terakhir. Mereka masih melakukan praktek penahanan terhadap para pembangkang dan oposan. Tapi tak bisa dipungkiri Partai Komunis China telah melakukan perubahan mendasar.
Mereka mulai merombak susunan partai. Contohnya, saat ini partai ini tidak dikuasai oleh satu orang. Ada batasan umur, masa jabatan dan terbukanya kompetisi kepentingan di dalam tubuh partai. Hal ini mencerminkan semakin beragamnya sistem kemasyarakatan di China. Memang ini adalah perubahan besar, tapi bukanlah demokrasi sebenarnya.

Peran China dalam tatanan dunia saat ini meningkat, terutama di wilayah Asia Tenggara. Apakah China akan menggeser posisi Amerika Serikat di kawasan ini?
Saya kira tidak. AS tidak akan meninggalkan wilayah ini. AS punya kepentingan yang besar di Asia Tenggara. Peran China kali ini persis seperti yang pernah mereka capai beberapa abad lalu. Mereka berada di posisi yang sangat penting di wilayah ini. China telah berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir, banyak orang yang mengatakan perkembangan pesat ini masih akan terus berlanjut.
Namun, kita perlu mengambil pelajaran dari Jepang, dan negara-negara lainnya. Jepang pada 1980 juga mengalami peningkatan pesat. Semua orang mengatakan Jepang akan menjadi negara superpower berikutnya. Tapi akhirnya mereka mengalami keterbatasan dalam kemampuan ekonomi dan perkembangan sosial.

China juga segera akan mengalami masalah serupa. Pertama karena sifat perkembangan ekonomi yang hanya bergantung pada investor. Ini tak bisa mereka lakukan selamanya. Investasi di China mencapai 55 persen dari angka pertumbuhan ekonomi, sementara nilai konsumsi hanyalah 35 persen. Kurva yang tidak seimbang ini nantinya akan segera membuat investor pergi dari China.

Kedua, China memiliki populasi generasi tua yang terus bertambah, bahkan lebih cepat dari Jepang. Regenerasi yang diharapkan sulit tercapai jika sudah begini. Harapan 10 tahun ke depan China tak akan tercapai. China tak akan menjadi negara super power yang dominan di kawasan maupun seluruh dunia. China memang akan lebih kuat, tapi melalui jalan yang lama, tak pesat seperti yang diramalkan.

Kita tahu beberapa minggu terakhir tercipta ketegangan di wilayah sengketa di Laut China Selatan. Apa peran AS dalam hal ini ?
Prinsip kami sangat sederhana. Negara-negara kecil seperti ASEAN sangat bergantung pada lingkungan internasional yang stabil untuk keperluan perekonomian. Kebanyakan negara-negara ASEAN menghindari adanya aksi militer yang menghabiskan banyak biaya. Untuk menghindari hal ini, posisi AS adalah menciptakan hubungan yang stabil dengan China, demi kepentingan kawasan.

Jika AS dan China tak bisa mempertahankan hubungan yang stabil, beberapa negara harus mempertahankan negara mereka sendiri. Beberapa negara seperti Singapura, Indonesia, Thailand, dan Malaysia harus membeli banyak pesawat tempur, kapal perang, dan melatih tentara, untuk melindungi negara mereka dari kekuatan-kekuatan besar.

Dengan hubungan yang benar antara negara-negara adi kuasa, kita dapat menghindari penghamburan dana negara untuk pertahanan, dan fokus terhadap perkembangan ekonomi. Sangat penting bagi China dan AS untuk mempertahankan posisi kuat yang menghargai satu sama lain Asia Tenggara.

Jika tidak, China akan kembali menerapkan prinsipnya: yang kuat mengalahkan yang lemah.
Hal ini tercatat dalam sejarah. Pada 1974, China merebut pulau Shi Sha dari Vietnam setelah China tahu AS akan meninggalkan negara tersebut. Pada 1968, China juga merebut pulau Nansha di kepulauan Spratly dari Vietnam, setelah tahu Rusia di bawah kepemimpinan Gorbachev akan memutuskan hubungan militer dengan negara itu. Keduanya direbut setelah Vietnam tidak lagi mendapatkan dukungan kekuatan dari luar.Pada tahun 1993, setelah Filipina menghentikan hubungan dengan AS, China mengambil beberapa wilayah Reef di kepulauan Spratly dari negara itu.

Tiga kasus ini seharusnya menjadi pelajaran. Jika negara-negara tersebut lemah, tanpa pertahanan dan dukungan dari negara lain, maka China akan mengambil keuntungan. China akan berdalih pulau itu tidak dimiliki siapapun karena tidak ada yang menjaganya.
Pelajaran bagi AS dan ASEAN adalah kita harus bekerjasama dalam melindungi tatanan internasional. Negara ASEAN akan menjadi kuat jika bersatu, sedangkan AS berjuang untuk kebabasan navigasi sesuai tatanan laut yang diatur oleh Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS).

Dalam sengketa Laut China Selatan, AS tidak memihak negara manapun. Kami hanya mendukung adanya penyelesaian melalui jalan damai.
Apa kepentingan AS di Laut China Selatan?
Laut China Selatan adalah jalur perdagangan minyak, komoditas dan produk milik AS dan sekutu kami, Korea dan Jepang. Kepentingan pertama kami adalah kebebasan navigasi sesuai UNCLOS. Kepentingan kedua kami adalah kewajiban untuk melindungi hukum internasional.

Teknologi militer China berkembang dengan pesat. Apakah ini akan menjadi ancaman bagi Amerika Serikat ?
China saat ini tengah memperbaharui sistem pertahanan seiring dengan perkembangan ekonomi nasional mereka. Mereka telah menjadi negara lemah selama 150 tahun, sangat dimengerti jika China ingin memiliki pertahanan yang memadai.

Selama 600 tahun, China tidak punya angkatan laut. Hanya belakangan ini saja China mulai berambisi membangun armadanya. Keputusan ini diambil lantaran China tengah mengisi perekonomiannya dengan cara pengiriman logistik dan produk. Dengan dasar ini, sangat dimaklumi jika China ingin punya kemampuan baru dalam pertahanan laut.

Dalam perkembangannya, China memiliki beberapa kemampuan yang bisa jadi ancaman bagi AS. Contohnya, teknologi internet, anti satelit dan anti kapal perang. Namun AS menanggapi ini dengan bijak. Kami berusaha memilah antara ancaman dan peluang kerja sama, antara peluang kerja sama dan kompetisi. Kami harap kami lebih dapat bekerja sama daripada berkompetisi.

Soal perkembangan ekonomi, apakah Indonesia dapat menyaingi China?

Perekonomian Indonesia sangat baik pasca krisis, perkembangannya mencapai 2,5 persen. Sekarang bagaimana caranya mengoptimalkan kesempatan ini. Harus diakui, Indonesia masih menderita kelemahan dalam infrastruktur, pasar pekerja, dan masalah bea, terutama impor dan ekspor. Jika ini masih terus terjadi, maka Indonesia terancam kehilangan kesempatan besar.

China terkenal mahal dalam produksi manufaktur tingkat kecil, seperti sepatu, tekstil dan lainnya. Indonesia punya pekerja dengan kemampuan yang baik dengan harga lebih murah. Ini dapat digunakan untuk merebut pasar industri dari China. Nantinya, hal ini akan menjadi dasar perkembangan penambahan nilai pada produk Indonesia.

Indonesia perlu melakukan yang lebih daripada China. Kita harus punya niat untuk maju, kesempatannya sangat jelas untuk indonesia.
Beberapa pihak di Indonesia mengatakan bahwa korupsi masih merajalela, meski kebebasan pers lebih baik saat ini. Tapi akuntabilitas pemerintah masih dipertanyakan. Apakah ini juga bisa menghambat perkembangan ekonomi Indonesia?

Indonesia punya sejarah panjang soal korupsi, namun saat ini saya kira angkanya tidak sebesar 10 tahun yang lalu. Hal ini tidak mencegah perkembangan yang terjadi di indonesia. Korupsi tidak dipungkiri adalah bagian dari perkembangan ekonomi. Pertanyaannya adalah bagaimana meningkatkan gaji pegawai negeri agar tidak ada keinginan untuk menambah pemasukan dengan cara yang tidak benar.

Untuk masalah kebebasan pers. Media di Indonesia sudah sangat bebas dibandingkan 1998 lalu. Namun apakah kebebasan itu bertanggungjawab ?
Kami di AS punya pengalaman dari tahun 1890 ketika media sangat tidak bisa diandalkan, dan perlu waktu lama sampai publik akhirnya mengikis jurnalisme semacam ini dari pasar. Jika pasar media masih terbuka, maka kompetisi jurnalisme juga akan berkembang. Jika sudah berkembang, maka akuntabilitas akan lebih baik. Namun, tetap pada akhirnya publiklah yang akan menilai.
Sumber: Indofiles.org
http://indonews.org/china-tak-akan-jadi-superpower/

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: