PM China Tak Akan Bahas Soal Teknis


PACITAN – Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, masalah teknis perdagangan seperti dumping dan pengamanan (safeguard) tidak akan dibahas ketika Perdana Menteri China Wen Jiabao berkunjung ke Indonesia.

Selain itu, menurut Mari, masalah neraca perdagangan yang hingga kini masih tidak seimbang antara kedua negara juga tidak akan dibahas.

Rencananya, Wen Jiabao akan berkunjung ke Indonesia pada 23-25 April 2011. Wen Jiabao pernah beberapa kali membatalkan kunjungannya ke Indonesia sejak tahun lalu.
“Terkait dumping dan safeguard, itu kan urusan teknis kita. Jadi, tidak usah diangkat di tingkat kepala negara,” kata Mari di Pacitan, Sabtu (16/4/2011).

Pasalnya, menurut Mari, dalam semua hubungan perdagangan, terdapat instrumen untuk menjaga agar perdagangan itu bisa adil (fair trade) dan tidak terjadi dumping atau lonjakan impor yang tidak terlalu besar sehingga bisa merugikan produsen di dalam negeri.

Yang penting, kata Mari, adalah Indonesia bisa mencapai tujuan strategis, yaitu target perdagangan kedua negara sebesar USD50 miliar bisa direalisasikan dalam tiga tahun ke depan. “Dan perdagangan bilateral bisa seimbang dan terus bertumbuh,” ucap Mari.

Intinya, lanjut Mari, masing-masing kepala negara akan membahas mengenai bagaimana merealisasikan kemitraan yang strategis serta menjalankan berbagai program ekonomi.

“Dan di dalam kemitraan strategis itu bagaimana program aksi untuk ekonomi. Kita sudah punya itu dan mensepakati berbagai hal di level kepala negara untuk dicek apakah sudah dilaksanakan atau belum. Kalau belum dilaksanakan, dilihat apa yang musti kita dorong lagi. Kira-kira begitulah tatanan besarnya,” jelas Mari.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Teknologi, Industri, dan Riset Bambang Sujagat menegaskan, seharusnya kunjungan PM China bisa menjadi momentum yang baik bagi Indonesia untuk membahas hal-hal yang sifatnya crucial (penting), seperti ketimpangan neraca perdagangan antara kedua negara.

“Kunjungan itu merupakan kesempatan yang baik, jadi jangan sampai ditutup-tutupi masalah-masalah yang masih terjadi. Neraca perdagangan kita dengan China itu sudah jomplang,” tegas Bambang.

Bambang menjelaskan, Indonesia juga harus membahas masalah sektor-sektor industri nasional yang terkena injury pascaimplementasi kerja sama perdagangan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) sejak awal 2010, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT).

Indonesia, kata Bambang, harus bisa memanfaatkan kelemahan China, melalui peningkatan ekspor beberapa produk utama yang tidak bisa dihasilkan oleh China, terutama minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batu bara.

“China tidak akan mendapatkan itu semua dari negara lain. Kita tidak sadari kalau sedang dalam posisi yang bagus,”ucapnya.

Bambang berharap, sebaiknya pemerintah juga mengajak kalangan pengusaha nasional pada saat melakukan pertemuan dengan PM China.

“Menteri Perdagangan kita jangan jalan sendiri. Yang terpukul kan kita ini, sektor industri. Semua masalah harus dibahas secara bilateral,”ujarnya.

Selain itu, Bambang menambahkan, kedua negara juga harus membicarakan mengenai potensi peningkatan investasi China di Indonesia, yang hingga saat ini masih banyak yang belum terealisasi.

“Selain itu, juga harus dibicarakan mengenai masalah regulasi yang menghambat investasi China di Indonesia serta masalah pasokan serta harga gas bumi bagi sektor industri,” tandas Bambang.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan, China hanya mampu menjadikan Indonesia sebagai target pasar, bukan negara tujuan investasi. Sehingga seharusnya, kata dia, China bisa mengalihkan produksinya ke Indonesia untuk produk-produk tertentu agar terjadi keseimbangan perdagangan yang adil.

“Negosiasi ini bisa dilakukan Indonesia saat Perdana Menteri China berkunjung ke sini akhir April nanti. Momentum ini harus dimanfaatkan dengan baik,” ujar Erwin.

Ketua Komisi VI DPR RI Airlangga Hartarto menambahkan, masih lemahnya daya saing industri nasional merupakan salah satu pemicu masih tergerusnya produk Indonesia oleh produk impor asal China.

Airlangga menjelaskan, pasca setahun implementasi ACFTA, neraca perdagangan kedua negara memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
“Namun yang perlu dicatat dalam setahun terakhir Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar USD4,7 miliar,” tegasnya.

Bahkan, nilai investasi yang ditanamkan oleh investor China di Indonesia sepanjang tahun lalu hanya sebesar USD174 juta.

“Total investasi China ke seluruh ASEAN sepanjang tahun lalu bisa mencapai USD2,75 miliar,” tutup Airlangga. (Sandra Karina/Koran SI/rhs)
(Sumber: okezone, Minggu, 17 April 2011)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: