Menperin: Barang Impor Negeri Tirai Bambu di Bawah Standar

RMOL. Kualitas barang-barang impor yang berasal dari China banyak di bawah standar. Keluhan itu diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat.

Menurut Hidayat, selama ber­lang­sungnya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), ba­nyak ditemukan produk China yang ber­ada di bawah standar. Selain itu, ada sinyalemen terjadi praktik dumping (banting harga) pada barang-barang dari China.

“Nah, kita kan melakukan ber­bagai upaya, antara lain meng­gu­nakan safeguard,” kata Hi­dayat di Istana Negara, kemarin.

Menurut Hidayat, dari puluhan komoditi China, ada ke­mung­ki­nan terjadi dumping. Sebab itu, ia meminta proses pengajuan pe­ngenaan anti dumping, meski un­tuk mencapai ke titik itu harus ada pelaku usaha yang merasa di­ru­gikan dengan mengajukan petisi.

Hidayat mengakui, sudah ter­jadi tekanan terhadap sektor-sek­tor industri terutama sektor fur­niture, logam dan produk lo­gam, elektronik, permesinan, tekstil dan produk tekstil.

Di tempat terpisah, bekas Pre­siden BJ Habibie menga­ta­kan, un­tuk menghadapi pasar be­bas, Indo­nesia harus memiliki stan­­dar yang memungkinkan agar pro­duknya masuk ke pasar.

“Kita harus berorientasi ke pa­sar. Kalau pasar sebagian besar ke daerah tertentu, kita arahkan ke standar pasar itu,” ujar Habibie di acara ulang tahun Badan Stan­darisasi Nasional (BSN).

Menurut Habibie, pemerintah harus terus mengembangkan itu. Tujuannya, agar produk-produk hasil karya negeri sendiri di­terima pasar. “Tapi yang perlu diperhatikan, barang impor yang masuk ke sini harus memenuhi standar dan bisa digaransi dengan kualitas yang tinggi,” katanya.

Menurut Habibie, pemerintah ju­ga harus mengutamakan ke­pen­ti­ngan nasional, karena di dalam ne­geri masih banyak yang meng­ang­gur. Karena semakin kaya ma­sya­ra­kat, maka makin besar daya belinya.

“Jadi, standar itu harus mem­bantu supaya proses ini bisa ber­jalan. Rule play WTO (World Trade Organization) jangan di­anggap sebagai baju baru untuk pen­jajah dulu. Misalnya, dia da­tang ke sini ambil sumber daya alam, apa lalu dia bayar dengan apa misalnya sepatu, tekstil kita beli dari dia. Kita tidak boleh seperti itu,” jelas Habibie.

Kepala BSN Bambang Setiadi mengungkapkan, China sudah membeli 653 SNI dengan tujuan agar bisa membuat produk sesuai yang diharapkan, sehingga In­donesia tidak bisa menolaknya.

“Kita harus lebih siap meng­hadapinya. Karena setelah China, kita akan melakukan free trade dengan India, New Zealand dan Korea,” ujar Bambang.

Menurut dia, salah satu solusi jitu menghadapi perdagangan bebas adalah menerapkan SNI pada barang impor. Selain itu, SNI juga digunakan untuk mem­perkuat daya saing nasional.

Untuk meminimalkan dampak negatif ACFTA, BSN juga mem­buat program gerakan nasional penerapan (genap) SNI. Dalam program itu, sudah ada 11 lang­kah untuk menghadapi perdaga­ngan bebas dengan Negeri Tirai bambu.

Sebelumnya, hasil survei yang dilakukan Kementerian Per­in­dus­trian (Kemenperin) me­nyim­pul­kan, ACFTA telah berdampak pada penurunan produksi sektor industri dalam negeri .

Selain itu, terjadi penurunan keuntungan dan pengurangan jumlah tenaga kerja dengan tingkat korelasi yang berbeda-beda untuk setiap responden dan juga produk.  [RM]

(Sumber: Rakyat Merdeka, Jum’at, 25 Maret 2011)

http://ekbis.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22113

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: