Strategi Keamanan Energi China

Oleh Rene L Pattiradjawane

Pembangkit listrik tenaga surya 10 megawatt di Shizuishan, barat laut Ningxia, China, Juni 2010. (AP PHOTO/IMAGINECHINA/GAO LIN)

Keamanan energi di tengah globalisasi menunjukkan bahan bakar dan penggunaan energi menjadi persoalan dunia bagi siapa saja. Krisis Timur Tengah yang berkepanjangan mendorong kenaikan harga BBM, tanpa titik jelas pada tingkatan berapa dollar AS per barrel harus dibayar dunia. Oleh René L Pattiradjawane

Ini antara lain yang menjelaskan kenapa sejumlah negara besar di dunia, misalnya, mengirimkan kapal perang dan personelnya—bukan alat transportasi sipil mereka atas nama penyelamatan warga negaranya—ke Libya yang dilanda perang saudara. Ini dilakukan oleh AS, Inggris, Belanda, dan negara Eropa, termasuk China, yang sangat berkepentingan atas pasokan minyak di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Imbas pergolakan perang saudara di kawasan Libya akan menentukan jalannya nasib negara-negara penghasil minyak, bahan bakar yang mengikat ketergantungan kehidupan modern sekarang ini dalam segala aspeknya. Baik negara pengekspor maupun pengimpor minyak sekarang ini menghadapi dilema yang sama, karena saling ketergantungan dalam globalisasi sekarang ini menjadi terlalu rumit dan saling memengaruhi satu sama lain.

Kenaikan harga minyak dunia, misalnya, akan berpengaruh terhadap sistem ekonomi dan industri yang terjadi di China. Maklum, China adalah produsen dan pembuat berbagai produk yang dibutuhkan dunia, mulai dari pakaian sampai alat berat. Kenaikan harga minyak akan mendorong harga pokok produk yang diekspor negara ini ke seluruh dunia.

Kebutuhan baru

Minyak bumi menjadi sangat penting bagi China untuk menghidupkan perekonomiannya sekaligus menopang kesejahteraan rakyatnya yang mencapai jumlah 1,3 miliar jiwa. Celakanya, sumber-sumber energi minyak bumi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan ekonomi memiliki beberapa tantangan yang menghambat akses China untuk memperolehnya.

Sumber-sumber energi utama di kawasan dunia ini terletak pada kawasan yang selalu berada pada turbulensi instabilitas politik dan mengancam produksi, pasokan, dan transportasi, seperti di kawasan Teluk Persia atau Asia Tengah. Jalur transportasi juga harus melalui jalur laut rawan, yaitu Selat Hormuz dan Selat Malaka.

Terkecuali batu bara, China tidak kaya dengan sumber daya alam yang mampu mengamankan kebutuhan energinya. Persediaan energi dan sumber daya alamnya pun relatif terbatas dibandingkan dengan besarnya populasi yang sekarang hidup di daratan China. Pembangunan ekonomi yang secara ekstrem sangat cepat selama tiga dekade terakhir—disertai dengan urbanisasi dalam skala besar—menimbulkan kebutuhan baru atas lingkungan dan sumber daya alam yang masif.

Energi menjadi perhatian dan kekhawatiran para pemimpin China karena sangat dibutuhkan untuk bisa menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Urbanisasi yang sangat besar terkait dengan pemanfaatan dan penggunaan energi—ditambah dengan meningkatnya konsumtivisme di kalangan rakyatnya—mengharuskan China menata ulang setidaknya dua hal, yaitu mengoptimalkan struktur konsumsi energi, termasuk bagi pertumbuhan ekonomi, dan memperbaiki efisiensi utilisasi energi.

Pada saat yang bersamaan, ada dua strategi yang harus dilakukan China. Pertama, membangun sistem cadangan minyak strategis, dan kedua, mengembangkan sumber-sumber energi alternatif baru.

Cadangan minyak strategis China direncanakan 15 juta ton minyak. Cadangan ini dianggap tidak memadai karena hanya mampu digunakan di dalam negeri selama 20 hari, sangat jauh dibandingkan dengan AS (158 hari), Jepang (161 hari), Jerman (117 hari), dan Perancis (96 hari). Untuk ukuran China serta karakteristik pertumbuhan ekonominya, para ahli strategi memperkirakan cadangan memadai China seharusnya mencapai 90-120 hari.

Zaman batu

Ketika desakan untuk menghasilkan energi terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan menjadi keharusan bagi China, persaingan pun tidak terhindarkan. Pada tahun 1970-an, Menteri Perminyakan Arab Saudi Sheikh Ahmed Zaki Yamani pernah memperingatkan rekan-rekannya di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tentang bahaya harga minyak yang terlalu tinggi. Ini, katanya, akan memicu pasar mencari alternatif menuju ke energi terbarukan. Ditambahkan, zaman batu berakhir bukan karena dunia kekurangan batu. ”Zaman itu berakhir karena manusia menciptakan perkakas alternatif untuk membuat perunggu dan besi,” jelas Yamani.

Yamani ketika itu sudah menyadari, ketika konsumen menjadi terlalu sadar dan bersikap bersama untuk menghasilkan energi terbarukan pada skala dan pacu efisiensi energi melalui pertumbuhan eksponensial, abad minyak bumi akan bernasib sama dengan zaman batu yang meninggalkan banyak sekali batu di tanah. Pada abad ke-21, China akan mematahkan rumusan Yamani ini dan menjadikan minyak bumi hanya tersimpan di dalam tanah.

(Sumber: Kompas, Jumat, 18 Maret 2011)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: