China Merah, China Hijau

Tingginya harga minyak bumi serta ancaman yang ditimbulkan pada lingkungan menjadi dorongan dikembangkannya energi alternatif dan terbarukan. China sekarang mengandalkan batu bara sebagai sumber utama energinya, sekitar 70 persen dari konsumsi energi yang digunakan selama ini, khususnya di industri baja.

Di kalangan para ahli keamanan energi China mulai terpikirkan untuk memproses cadangan batu bara yang ada menjadi minyak. Untuk itu, mereka mulai melakukan riset teknologi gasifikasi batu bara. Teknologi ini diperkirakan akan mampu menghasilkan 1,2 juta barrel per hari minyak dalam waktu 10 tahun, setara dengan penggunaan seperenam permintaan yang ada sekarang ini.

Mulai dekade kedua abad ke-21, sumber energi China akan meningkat 10 persen dibanding tahun 1990, menggunakan energi terbarukan seperti tenaga nuklir, tenaga air, tenaga matahari, tenaga ombak, tenaga panas bumi, dan bahan bakar nabati. Dalam kurun 15 tahun ke depan, China diperkirakan akan membiayai 180 miliar dollar AS untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan menjadi 15 persen dari posisi tujuh persen yang sekarang digunakan di mana-mana.

China akan secara aktif mengembangkan energi bahan bakar nabati dan berharap akan menggantikan 10 juta ton minyak bumi setiap tahunnya dengan energi terbarukan. Pada tahun 2020, riset dan pengembangan yang dilakukan China akan memperluas lingkup penggunaan tenaga matahari sampai dengan 300 juta meter kubik panel solar yang menggantikan sekitar 40 juta batu bara setahunnya.

Bergeser

Tahun lalu, China berhasil melampaui Denmark, Jerman, dan AS, menjadi penghasil manufaktur turbin angin. Pemerintah China pun menjadi berambisi untuk membangun turbin angin yang mampu menghasilkan 100 gigawatt pada tahun 2020, menggandakan kapasitas global melalui pemasangan pada lahan yang luas di Mongolia Dalam.

China juga mulai terlihat unggul pada produksi teknologi panel solar memanfaatkan tenaga matahari sebagai sumber energi. Perusahaan Suntech Power, misalnya, yang beroperasi di Wuxi, Provinsi Jiangsu di bagian timur China, berhasil memecahkan rekor dunia menangkap sinar matahari energi solar photovoltaic (PV).

China juga telah menjadi negara yang menggunakan stasiun tenaga air terbanyak dan terbesar di dunia, serta mulai membangun banyak sekali pusat tenaga nuklir dalam jumlah masif dibanding negara lain.

Didorongnya teknologi energi terbarukan akan mengubah strata ketergantungan energi. Ketergantungan akan bergeser. Kalau semula banyak negara bergantung pada minyak bumi dari kawasan Timur Tengah, di masa mendatang mereka akan melirik China dengan kemajuan teknologi energi terbarukan yang dihasilkan dalam bentuk panel solar, turbin angin, dan lainnya yang dijual murah. (rlp)

(Sumber: Kompas, Jumat, 18 Maret 2011)

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: