Tionghoa Padang: dari Triad ke Sosial

Triad atau Tong adalah lembaga kriminal yang di dunia dikenal sebagai secret society dalam komunitas Tionghoa yang menjadi momok bagi Interpol. Namun, di Padang, Sumatera Barat, Triad justru menjadi motor komunitas Tionghoa lokal yang beranak pinak dan kini justru menjadi lembaga sosial.

Berawal dari kedatangan orang-orang Tionghoa berabad silam di Tiku, kota pelabuhan di utara Padang, dua buah komunitas Tong atau Triad yang bercampur dengan budaya Minangkabau pun terbentuk. Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan Himpunan Bersatu Teguh (HBT) merupakan dua buah Tong yang hidup lebih dari seabad di Padang. HTT berdiri sekitar tahun 1860-an.

Ferryanto Gani (Gan He Liang), mantan Ketua HTT Padang, mengakui, organisasi yang dipimpin berasal dari Tong.

”Organisasi kami semula adalah Tong yang disebut Ho Tek Tong dalam dialek Hokkian atau Fu De Dang dalam bahasa Mandarin. Seabad silam hingga awal abad ke-20, ada tukang pukul yang menjaga ketua organisasi. Mereka akan menindak tegas anggota yang melanggar aturan organisasi termasuk memukul orang yang tidak menghormati ketua,” kata Ferryanto.

Menurut Martin Booth dalam buku The Triads The Chinese Criminal Fraternity disebutkan, betapa Tong atau Triad berubah dari sebuah organisasi patriot jadi organisasi kejahatan. Semula Tong muncul sebagai reaksi atas munculnya Dinasti Qing yang dikuasai etnis Manchu yang mengakhiri Dinasti Ming (1368-1644). Tong atau Triad bertujuan menjatuhkan Qing dan memulihkan Ming dengan semboyan Fan Qing Fu Ming (Lawan Qing Bangkitkan Ming).

Hongkong jadi sentra utama kegiatan Triad yang membangun jaringan ke kota pelabuhan di Tenggara Tiongkok, Asia Tenggara, dan akhirnya jaringan global di Eropa, Amerika, Australia, bahkan Afrika!

Salah satu kegiatan utama Tong atau Triad adalah perdagangan obat bius, perjudian, pelacuran, dan menerima uang upeti dari pedagang. Pada zaman Hindia Belanda, pemerintah kolonial memang menjual hak berdagang opium (Opium Pacht) yang sebagian dikuasai perorangan atau organisasi Tionghoa.

Ketika ditanya tentang adanya Hun Keng, Kiao Keng, dan Ca Bo Keng (Rumah Candu, Rumah Judi, dan Rumah Pelesiran atau Pelacuran) yang dikelola Tong di masa lalu, Ferryanto mengatakan, organisasinya tidak melakukan hal itu. Namun, dia mengakui, orang Tionghoa Padang di masa lalu biasa berjudi.

”Sebagian besar anggota Tong di Padang adalah pedagang. Peredaran candu dan pelacuran tidak ada karena warga Tionghoa di sini hidup saling menghormati dan membaur dengan warga Minangkabau yang religius. Sebagian besar warga Tionghoa malah sudah tidak bisa berbahasa Mandarin atau dialek Hokkian,” kata Ferryanto.

Meski demikian, Lisa Suroso, anggota dewan Perkumpulan Indonesia Tionghoa (INTI), menyatakan, belum ada studi kearsipan yang mendalam tentang riwayat Tionghoa Padang dan kedua Tong secara khusus.

Upacara Triad

Meski hampir seluruh Tionghoa Padang sudah tidak mampu berbahasa Mandarin—logat Minang mereka sangat kental—sejumlah tradisi inisiasi Triad atau Tong masih dijalankan bagi intern organisasi. Upacara inisiasi anggota dengan tradisi Tionghoa kuno dilakukan tertutup dan eksklusif.

”Kalau bukan anggota Tong, biarpun sesama Tionghoa, tidak bisa masuk menyaksikan upacara,” kata Lisa. Pendapat itu dibenarkan Ferryanto yang menyatakan anggota Tong saja yang boleh ikut upacara. Istri dan anak mereka tidak boleh ikut kalau bukan anggota Tong.

Dewasa ini, transformasi ke kegiatan sosial terjadi secara alamiah bagi Tong di Padang. Mereka mengurus kematian para anggota secara cuma-cuma. Peti mati dari kayu utuh yang diberi rongga masih digunakan pada upacara pemakaman. Tong juga menyelesaikan perselisihan rumah tangga para anggota.

Organisasi sosial yang berawal dari Tong itu sangat unik karena senioritas sangat dihargai. Saat Kompas pergi bersama Ferryanto di Padang dan Bukit Tinggi, setiap kali berpapasan dengan warga Tionghoa Peranakan setempat yang menjadi anggota Tong, mereka langsung berdiri memberi hormat dengan menyatukan kedua tangan dalam kepalan tangan kiri menutup kepalan tangan kanan.

”Salam Toako. Apa kabar,” demikian mereka menyapa Ferryanto dengan hormat. Di beberapa lokasi, warga bangkit berdiri untuk memberi salam saat Ferryanto datang.

Itulah keunikan Tong atau Triad di Padang, tempat sekitar 6.000 keluarga Tionghoa Peranakan hidup. Mereka tidak berhubungan dengan komunitasi Tionghoa di Batavia, Palembang, atau Medan, tapi mempertahankan tradisi sekaligus berbaur dengan budaya Minangkabau yang indah. (Iwan Santosa)

(Sumber: Kompas, Kamis, 17 Maret 2011)
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Ma Sang Ji  On Maret 17, 2011 at 1:21 am

    Minangkabau suku perantau. Tionghoa pun bangsa perantau. Sebuah kombinasi yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: