Diktator China Ungkapkan “Penyesalan”

Oleh Heng He/ The Epoch Times

Menurut sebuah artikel majalah yang diterbitkan di Hong Kong, mantan pemimpin tertinggi Partai Komunis China sedang memikirkan kembali tentang masa kekuasaannya.

Pemikiran kembali itu terungkap di dalam artikel majalah Frontline berbahasa Mandarin, di mana mereka secara bersamaan tersembunyi dan terlihat jelas. Sebuah pesan telah disampaikan – jika seseorang dapat memilah suara dari sinyal itu.

Judul artikel ini adalah “Mengakui Umat Manusia Memiliki Nilai Universal” Subjudulnya adalah “Dua Peristiwa Besar yang Disesalkan Jiang Zemin dalam Hidupnya.” Dua peristiwa yang dimaksud adalah pengeboman Kedutaan China di Beograd dan penganiayaan terhadap Falun Gong.

Bagian terbesar dari artikel itu membahas perebutan kekuasaan di sekitar Kongres Nasional Ke-18 Partai Komunis China (PKC) – pertemuan empat tahunan bagi anggota Partai.

Bagian dari artikel ini menggambarkan Jiang sebagai seseorang yang memegang kekuasaan politik yang cukup besar di belakang layar. Ia juga mengatakan untuk mengambil sikap yang fleksibel terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal – demokrasi dan kebebasan – dan lebih mungkin daripada beberapa pemimpin PKC lain untuk mengadopsi mereka.

Tetapi diskusi ini bertentangan sendiri dengan menunjukkan bahwa setiap perubahan yang dibuat Partai akan berada dalam arah untuk memperkuat kekuasaan Partai. Penerapan demokrasi dan hak asasi manusia yang bertentangan dengan dasar pikiran mendasar. Jiang tidak mungkin serius tentang kedua kekuasaan politik dan mengadopsi demokrasi dan hak asasi manusia. Artikel yang membahas fleksibelitas Jiang itu tidaklah serius.

Pembaca diberi isyarat visual yang jelas seperti apa yang signifikan dari desain yang tidak lazim dari artikel itu. Font tulisan yang digunakan untuk judul adalah 50 persen lebih kecil daripada font yang digunakan untuk subjudul. Bagian terkecil dari artikel, pembahasan tentang dua penyesalan Jiang, adalah bagian penting dalam artikel Frontline itu.

Sebuah Pertanyaan Bermotif

Dengan beberapa cerita yang bocor itu, timbullah pertanyaan tentang kredibilitas.

Majalah Frontline memiliki rekaman jejak penerbitan informasi rahasia tentang para pejabat PKC. Banyak dari cerita itu kemudian telah dikonfirmasi. Sebagai contoh, pada bulan Juli 2007, majalah ini menerbitkan sebuah artikel tentang korupsi saudara-saudara Liu Zhijun. Waktu itu Liu adalah Menteri Perkeretaapian. Pada 12 Februari 2011, Komite Disiplin Pusat PKC mulai menyelidikinya, dan dia dicopot dari jabatannya pada 25 Februari. Sebagian besar korupsi yang diekspos oleh Frontline lebih dari tiga tahun lalu akhirnya dikonfirmasi oleh PKC sendiri.

Menurut artikel itu, Jiang, di masa pensiun, ingin menerbitkan otobiografi. Namun, karena sebuah daftar alasan yang panjang, Partai tidak akan mengijinkan mantan pemimpin Partai manapun atau pemimpin negara untuk mempublikasikan otobiografi mereka. Li Peng, Perdana Menteri waktu pembantaian Tiananmen 1989, ingin menerbitkan otobiografinya untuk mempertahankan perannya pada tahun 1989 dan tetap tidak bisa mendapatkan persetujuan.

Jiang dikatakan telah mencoba untuk menghindari larangan otobiografi dengan menulis artikel atas nama anaknya – dalam lingkungan kepemimpinan PKC, anak-anak menulis tentang orang tua mereka adalah umum. Dia juga mulai pada 2010 mendikte pengalamannya untuk dipercaya, asisten-asisten terdekat, menurut artikel itu.

Artikel tentang Jiang itu tidak menyebutkan sumber informasi tentang penyesalan Jiang. Dengan mengasumsikan bahwa laporan tentang penyesalan itu adalah akurat, hanya ada dua kemungkinan. Entah para asisten yang mendengar cerita itu dari Jiang dan menceritakan kepada wartawan, ataukah Jiang sendiri yang membocorkannya.

Pertanyaan kuncinya adalah apakah Jiang punya alasan mengatur cerita penyesalannya untuk diberitakan.

Pengeboman Kedubes

Pengeboman Kedutaan Besar China di Beograd terjadi secara langsung dikarenakan keputusan Jiang. Pada musim semi 1999, serangan udara NATO telah menghancurkan komando dan sistem kendali militer Serbia. Slobodan Milosevic meminta bantuan dari Rusia dan China. Rusia menolak, tapi Jiang tanpa ragu-ragu setuju untuk membantu. Jiang juga mengacuhkan permintaan Menteri Luar Negeri untuk mengevakuasi staf kedutaan, meskipun semua negara lain sudah melakukannya.

Tiga unit intelijen Serbia pindah ke ruang bawah tanah Kedutaan Besar China dan memulai beroperasi dari sana. Ketika serangan udara NATO menghantam kedutaan, tiga staf kedutaan tewas. Media China tidak melaporkan 14 kematian lainnya di ruang bawah tanah.

Respon lemah dari rezim komunis China tidak seperti biasanya, menurut artikel Frontline, Amerika Serikat menunjukkan bukti bahwa unit intelijen militer Serbia beroperasi di kedutaan itu. Saat itu Jiang dianggap sebagai pemimpin yang paling tidak berguna di China.

Penindasan Falun Gong
Penindasan terhadap Falun Gong juga dimulai pada tahun 1999. Latihan spiritual ini terdiri dari lima gerakan latihan “qigong” meditasi dan mematut diri sesuai dengan prinsip-prinsip sejati, baik, dan sabar.

Setelah pertama kali diajarkan ke publik pada 1992, Falun Gong telah menjadi sangat populer. Menurut sumber-sumber negara, 100 juta orang berlatih Falun Gong pada 1999. Awal tahun 1997, praktisi Falun Gong telah mulai mendapat berbagai bentuk pelecehan resmi.

Pada 25 April 1999, diperkirakan 10.000 praktisi Falun Gong pergi ke kantor banding pusat di Beijing untuk meminta lingkungan yang aman dan sah untuk berlatih Falun Gong. Kantor banding itu terletak tidak jauh dari kantor pusat kepemimpinan PKC, Zhongnanhai, dan para praktisi akhirnya berbaris sepanjang jalan-jalan di sekitarnya selama seharian.

Demonstrasi damai ini membuat Jiang panik dan marah, dan ia memutuskan untuk “membasmi” latihan Falun Gong. Keputusan itu tidak mendapat kesepakatan baik di Komite Tetap Politbiro dan di dalam rumah Jiang sendiri.

Zhu Rongji sebagai Perdana Menteri, dan Li Ruihuan, ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China, berpendapat bahwa tidak perlu untuk membuat masalah besar tentang latihan qigong itu, apalagi untuk memulai sebuah kampanye massal. Di rumah, istri Jiang, Wang Yeping dan cucunya Jiang Zhicheng, kedua-duanya berlatih Falun Gong, menurut artikel itu.

Namun demikian, Jiang bersikeras bahwa di bawah PKC, China tidak dapat mentolerir adanya sebuah organisasi di luar kendali partai. Akhirnya, ia memaksa Politbiro untuk mengambil kebijakan tentang penganiayaan.

Sekarang, setelah celaan delapan tahun sejak ia meninggalkan kekuasaannya, Jiang telah menyadari bahwa masalah Falun Gong bisa ditangani secara berbeda, menurut artikel.

Menurut artikel tersebut, Falun Gong telah menjadi kekuatan paling kuat di luar China yang menentang PKC, dan pejabat PKC menghadapi protes di mana saja mereka melakukan kunjungan. Para pejabat yang telah terlibat sangat dalam dalam penganiayaan itu telah menghadapi tuntutan hukum dan bahkan penangkapan selama kunjungan mereka di luar negeri, yang mana merusak citra pejabat PKC dan negara. Selain itu, penganiayaan terhadap Falun Gong telah merubah jutaan atau bahkan puluhan juta orang menentang Jiang dan partai.

Ini adalah alasan Jiang menyesali penganiayaan itu, menurut artikel. Dia tidak menyatakan penyesalan atas penderitaan luar biasa dan kehilangan jiwa dikarenakan kebijakannya itu.

Dua Ketakutan
Media berbahasa Inggris dan Mandarin telah menanggapi diskusi penyesalan Jiang di Frontline dengan sangat berbeda. Media Barat yang melaporkan artikel itu telah berkonsentrasi pada pengeboman kedutaan, tapi media berbahasa Mandarin di luar China, penyesalan Jiang karena menargetkan Falun Gong telah banyak dibahas.

Informasi tentang pengeboman dan penganiayaan dalam artikel itu bukanlah berita bagi mereka yang telah mengikuti ketat peristiwa-peristiwa dalam 12 tahun terakhir. Kisah pengeboman kedutaan adalah sama seperti yang diberitahu beberapa bulan setelah pengeboman itu terjadi.

Juga, orang-orang di China telah mengetahui selama ini bahwa keputusan Jiang untuk menganiaya Falun Gong tidak didukung oleh para pemimpin top lainnya dan oleh beberapa anggota keluarganya sendiri – mereka hanya tidak tahu bahwa anggota keluarga itu adalah istri dan cucunya.

Kisah pengeboman kedutaan tidak berpengaruh pada China sekarang ini dan tidak bisa menjadi pesan utama. Pesan sebenarnya adalah penganiayaan terhadap Falun Gong, yang mana masih sedang terjadi di China dan masih memilih dampak pada setiap aspek kehidupan masyarakat China.

Artikel ini memang memiliki sesuatu yang baru untuk dikatakan tentang penganiayaan: Jiang disebutkan ingin menghindari tanggung jawab atas penganiayaan yang terus berlanjut sejak ia pensiun.

Semua pemimpin PKC memiliki warisan politik mereka sendiri. Dua warisan utama Mao Zedong adalah mengambil China dari Chiang Kai-Shek dan mencetuskan Revolusi Kebudayaan. Warisan Deng Xiaoping adalah reformasi ekonomi dan pembantaian mahasiswa di  Lapangan Tiananmen. Jiang hanya mempunyai satu warisan – penganiayaan terhadap Falun Gong.

Dari sudut pandang PKC, keputusan Jiang untuk mempertahankan kekuasaan PKC dan mencegah Falun Gong  “bersaing dari jumlah massa.” Bagi PKC, itu adalah “hal yang baik.” Mengapa Jiang tiba-tiba ingin menyerahkan “kehormatan” karena memerintahkan penganiayaan itu?

Biasanya, para pemimpin PKC tahu krisis yang sedang mereka hadapi lebih jelas daripada orang-orang China biasa, dan, dalam banyak kasus, lebih baik dari para pemerintah Barat dan ahli China Barat. Jiang takut ia harus bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya itu.

Dia jelas tidak takut pada Partai atau para pemimpin generasi berikutnya. Walaupun artikel tersebut menyebutkan bahwa selama pemerintahan Xi Jinping, isu Falun Gong akan diselesaikan tanpa merusak Partai, ini masih bukan kekhawatiran Jiang. Selama PKC masih ada, tidak ada yang perlu ditakuti Jiang. Sekarang Jiang hanya takut akan hukuman dari Tuhan atau dari hukum dan rakyat ketika PKC telah tiada.

Jiang tidak dapat mempercayai bahwa artikel majalah tersebut akan mengubah apa yang dia akan hadapi setelah kematian. Dia hanya ingin melepaskan tanggung jawab sebanyak mungkin atas penganiayaan yang ia cetuskan dalam kasus ketika PKC sudah tidak bisa melindunginya lagi. (EpochTimes/khl)

(Sumber: Erabaru.net, Jumat, 04 Maret 2011)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: