Tiongkok Hadapi Krisis Tenaga Kerja

Di gudang limbah di Kota Guiyu, Tiongkok, seorang pekerja migran memanaskan motherboard komputer dengan solder untuk menghapus chip dan logam berharga. Kekurangan tenaga kerja ditambah kecenderungan memindahkan bisnis ke area pedalaman telah menjadi mimpi buruk bagi perusahaan di wilayah pesisir Tiongkok daratan. (JEFFREY LAU/IPS)

 

Epochtimes.co.id- Umumnya jangka waktu setelah Tahun Baru Tiongkok adalah musim sibuk bagi perusahaan-perusahaan dalam hal mempekerjakan karyawan. Tapi tahun ini mungkin dapat berbeda, menurut statistik dan analisis yang dirilis baru-baru ini.

Kurangnya tenaga kerja ditambah kecenderungan memindahkan bisnis ke area pedalaman telah menjadi mimpi buruk bagi perusahaan di wilayah pesisir Tiongkok daratan.

“Ini akan jauh lebih sulit untuk mempekerjakan orang pada 2011,” kata Zhang Yi, peneliti di Institut Penduduk dan Tenaga Kerja Ekonomi di China Academy of Social Sciences.

Menurut laporan yang dikeluarkan Dewan Nasional Tekstil dan Pakaian Tiongkok, Wilayah Pearl River Delta saat ini kekurangan dua juta pekerja, bertentangan dengan klaim aparat yang menyatakan hanya kekurangan satu juta. Provinsi Shandong sendiri kekurangan dari lebih 700.000 pekerja.

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh New Express Desember lalu mengungkapkan bahwa perusahaan di Kota Dongguan Provinsi Guangdong memiliki kekurangan 40 persen tenaga kerja.

Provinsi pedalaman juga melaporkan kekurangan pekerja. Komite administrasi Dongmeng Economic Development Park di Kota Nanning, Provinsi Guangxi melaporkan kekurangan tenaga kerja sekitar 30.000 pekerja.

Wawancara baru-baru ini oleh Bisnis Mingguan Chengdu, Guo Xiaoming, Wakil Dekan Akademi Ilmu Sosial Sichuan mengatakan bahwa provinsi pedalaman lainnya, Sichuan, juga menderita krisis tenaga kerja di wilayah tertentu. Pada akhir tahun 2009, 21 perusahaan di Kota Suining menghadapi kekurangan 20 persen tenaga kerja.

Menurut data yang diterbitkan dalam edisi kedua Xinhua Digest tahun ini dalam artikel berjudul Reasons of Shortage of Migrant Workers, Resolution and Outlook of Labor Market Revolution (Alasan Kekurangan Buruh Migran, Resolusi dan Harapan Revolusi Pasar Tenaga Kerja), cadangan buruh migran berkurang enam juta dari tahun lalu. Angka-angka telah menunjukkan penurunan selama tiga tahun berturut-turut, mengakibatkan susutnya sekitar 20 juta orang dari tiga tahun lalu.

Pada 8 Februari Zhang Yi mengatakan kepada China Broadcasting Net bahwa inflasi di daerah pesisir ini bahkan lebih buruk daripada di daerah tengah dan barat, khususnya biaya makanan dan perumahan yang meningkat tajam. Selain itu, masalah transportasi selama Tahun Baru Tiongkok dan faktor lain menghalangi pekerja migran dari tempat kerja jauh ke tempat kerja yang lebih dekat.

Li Mengzhou, manajer forchina.tw mengatakan bahwa banyak orang muda menginginkan pekerjaan kantoran dan merasa bahwa memakai jas walaupun penghasilan kurang lebih baik dari berpakaian sebagai buruh tani. Generasi yang lahir setelah era 1980-an lebih suka bekerja di McDonald’s atau KFC (pekerjaan favorit di Tiongkok) dan diri membuat diri mereka merasa lebih baik.

Satu set data yang diberikan oleh Biro Nasional Statistik menunjukkan bahwa pada 2009 pendapatan bulanan rata-rata buruh yang bekerja di Tiongkok timur adalah 1.455 yuan (220 dolar AS), dan 1.382 yuan (110 dolar AS) untuk orang-orang yang bekerja di Tiongkok barat. Pendapatan di wilayah timur hanya lima persen lebih tinggi daripada wilayah barat. Padahal lima tahun lalu, gaji di daerah timur lebih tinggi 15 persen dibanding daerah barat. Kini keuntungan dari gaji yang lebih tinggi yang dibayarkan di timur tidak ada lagi.

Kurangnya tenaga kerja telah menyebabkan berkurangnya pekerjaan di Tiongkok. Jaringan Teknologi Tekstil melaporkan bahwa beberapa perusahaan Taiwan awalnya memesan ke pabrik-pabrik Tiongkok. Namun, karena krisis tenaga kerja, pembatasan listrik, serta kenaikan harga bahan baku, memenuhi pesanan telah menjadi masalah. Untuk menjamin pengiriman produk tepat waktu, mereka telah memutuskan untuk mulai membawa beberapa pesanan mereka kembali ke Taiwan.

Ma Guangyuan, peneliti di Beijing University dan ahli kebijakan publik, mengatakan tenaga kerja murah yang disediakan oleh pedesaan telah menyusut. Kenyataan di Tiongkok adalah bahwa harapan dan cita-cita generasi buruh petani muda telah berubah secara dramatis, katanya.

“Apa yang kita hadapi adalah generasi kedua buruh tani. Mereka memiliki lebih banyak pengetahuan dan cita-cita dan mereka ingin tinggal di kota, yang berbeda dari orang tua mereka yang hanya ingin ke kota untuk mencari nafkah untuk hidup yang lebih baik, dan kemudian segera kembali ke daerah asal.

“Bagaimana perusahaan memperlakukan buruh petani adalah masalah besar. Apakah mereka memperlakukan buruh tani sebagai mitra jangka panjang atau hanya sebagai pekerja sementara? Apakah mereka memperlakukan buruh tani sesuai dengan standar yang sama dengan orang dari kota, menghilangkan diskriminasi dalam memberikan manfaat termasuk perawatan kesehatan, perumahan, dan apakah anak-anak mereka dapat dikirim ke sekolah yang dekat dengan orang tua mereka dan bukannya ke ‘Sekolah Pekerja Migran’ di mana kualitas pendidikan telah menjadi masalah. Apakah hal-hal di atas dapat tercapai menunjukkan apakah mereka masih diperhatikan dan diperlakukan selayaknya,” tambah Ma.

Ma mengatakan bahwa secara keseluruhan pasokan tenaga kerja potensial di Tiongkok masih lebih besar dari permintaan. Jika perusahaan bisa memperlakukan pekerja tani dengan layak, Tiongkok tidak akan mengalami kesulitan mempekerjakan orang dalam sepuluh tahun mendatang.  (Han Shan / The Epoch Times / val)

(Sumber: Epochtimes.co.id, Sabtu, 26 Febuari 2011)
http://www.epochtimes.co.id/ekonomi.php?id=247

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: