Pendekar HAM Gao Zhisheng: Dari Lubuk Hati Terdalam (1)

Gao Zhisheng di rumah masa kecilnya di tahun 2007, sebelum penangkapan dan penyiksaan oleh PKC. (THE EPOCH TIMES)

 

Pada 2007, pengacara pembela HAM di China, Gao Zhisheng menulis artikel “Malam yang Kelam dan Peculikan oleh Mafia,” yang membeberkan bukti-bukti mengerikan 50 hari penyiksaan yang dideritanya di tangan agen-agen keamanan PKT pada September, Oktober, dan November 2007.

Artikel ini dirilis untuk dipublikasikan setelah Gao sekali lagi ditangkap pada 6 Februari 2009. Istri Gao, Geng He, baru-baru ini menemukan prolog untuk “Malam Kelam,” yaitu artikel “Dari Lubuk Hati Terdalam.” Dia mengizinkan The Epoch Times untuk yang pertama kali mempublikasikannya. Berikut adalah cuplikannya:

Di bawah pengawasan yang ketat dari Dewa-dewa di Langit, dan di tengah dunia yang bebas dan beradab, tidak ada kejahatan yang tidak dilakukan oleh Partai Komunis China (PKC). Ini benar-benar mengejutkan!

Meskipun China memiliki 1,3 miliar penduduk, namun jika tidak ada satupun dukungan, bisa jadi keluarga saya dalam situasi berbahaya!

Sebelum September 2007, hanya ada empat orang di China yang menolak mengikuti Partai Komunis China dan tetap melakukan kontak pertemanan dengan saya secara terbuka. Akibatnya, salah satu dari mereka terus-menerus diikuti oleh polisi, sedang tiga lainnya diculik pada bulan September, dan mengalami penyiksaan secara brutal.

Pada tahun 2008, Hu Jia, yang terus menentang perintah PKC, dijebloskan ke penjara. Sedangkan Huang Yan diculik dan dipenjarakan bersama para praktisi Falun Gong, dimana dia mengalami penyiksaan kejam. Selain itu, Huang mendengar dan menyaksikan sendiri bahwa penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong bahkan lebih menakutkan. Di bawah intimidasi penyiksaan dari PKC, saat ini di China tidak ada yang berani untuk berkomunikasi dengan saya secara terbuka.

Sekarang sangat sulit bagi saya untuk membuat orang-orang supaya mendengar suara saya. Selain itu, saya terus-menerus berada dalam situasi berbahaya. Selama lebih dari tiga tahun, pemerintah telah menginvestasikan sejumlah besar tenaga kerja, uang, serta menggunakan metode yang paling kejam, untuk mencapai tujuan mereka membungkam saya.

November tahun lalu ketika saya tinggal di hotel, polisi berbagi ruangan yang sama dengan saya, mereka telah benar-benar mencapai tujuan mereka untuk membatasi ruang gerak saya. Saya sering mengatakan ikepada stri saya, Geng sambil bercanda: “Enam milyar orang hidup bersama di dunia global ini, namun kita keluarga justru serasa putus hubungan dengan dunia luar.”

Orang luar mungkin bisa merasakan bahwa keluarga saya hidup dengan kondisi sangat menyedihkan. Dan istri saya mungkin adalah yang paling menderita. Namun saya tetap optimis, dan saya percaya pada pengaturan Sang Pencipta.

Bahkan ketika saya disiksa hingga hampir mati, rasa sakit yang saya rasakan hanyalah di tubuh fisik permukaan ini saja. Hati yang dipenuhi dengan iman yang teguh kepada Tuhan, tidak memiliki ruang untuk merasakan sakit dan penderitaan. Saya sering bernyanyi bersama dengan dua anak saya, tapi istri saya tidak pernah bergabung dengan kami. Meskipun saya sering  berusaha menghiburnya, ia masih merasa sedih dalam hatinya.

Akar penderitaannya adalah karena Gege, putri kami, dilarang untuk bersekolah. Waktu itu saya juga putus asa untuk sementara waktu.  Terkejut dan marah, saya terus protes kepada pihak berwenang.  Bahkan istri saya waktu itu di ambang gangguan mental karena masalah ini.  (Gao Zhisheng / The Epoch Times)

(Sumber: Epochtimes.co.id, & Erabaru.net)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: