PDB Tiongkok Lampoi Jepang Tapi Tetap Miskin

Menurut data ekonomi terbaru yang dilansir Jepang, total nilai PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Tiongkok tahun 2010 untuk pertama kali melampoi PDB Jepang, dan menjadikannya sebagai negara dengan perekonomian kedua terbesar dunia — Harian Southern Daily RRT, 15 Februari 2011.

Sejumlah pakar ekonomi Tiongkok mengungkapkan predikat baru yang disandang ini harus disikapi dengan kepala dingin.

PDB diposisi ke-100

Pakar dari Pusat Riset Pengkajian Ekonomi Rakyat di Universitas Beijing Cai Zhizhou menyatakan, “Tiongkok tetap masuk kategori negara berkembang, bukan hanya karena rata-rata perkapita PDB 1/10 Jepang, juga belum sampai setengah dari standar rata-rata dunia. Sedangkan perkembangan ekonomi masyarakat Jepang lebih seimbang, sebagai contoh perbedaan perkembangan di daerah perkotaan dan pedesaan, sedangkan masalah ketidakseimbangan ekonomi Tiongkok sangat mencolok, berjenjang sangat besar.”

Para ekonom umumnya berpendapat rata-rata PDB perkapita lebih mampu merefleksikan taraf perkembangan ekonomi suatu negara dibandingkan dengan total nilai PDB. Menurut data yang dirilis IMF dan organisasi internasional lainnya, rata-rata PDB per kapita Tiongkok hanya 3.700 dolar AS, dan menempati urutan ke 100 dunia, atau berada dalam jajaran yang sama dengan Aljazair, Albania, dan negara miskin lainnya.

Juru bicara Badan Statistik Nasional Tiongkok, Sheng Laiyun, November 2010 menyatakan, jika merujuk standar pendapatan PBB setiap orang minimal berpendapatan 1 dolar AS per hari, maka RRT memiliki 150 juta jiwa penduduk miskin.

Pakar ekonomi luar negeri bahkan menyatakan, angka PDB RRT hanyalah rekayasa dan sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan. Beberapa waktu sebelumnya, situs Wikileaks mengungkap, wakil Perdana Menteri PKT, Li Keqiang, mengakui jika nilai PDB RRT merupakan hasil manipulasi. Meskipun PDB RRT telah melampaui Jepang, namun indeks ke-sejahteraan rakyat tidak tinggi, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang berjumlah sangat banyak tetap tidak mampu menanggung 3 beban utama yakni tempat tinggal, pendidikan, serta pengobatan.

Pakar ekonomi dan industri regional yang juga seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Zhongshan di Ling Nan, Sun Luo Ping, berpendapat bahwa sistem ekonomi yang diterapkan Jepang adalah ekonomi intensif, perbandingan pemanfaatan sumber daya dan produktivitas pekerja sangat tinggi. “Sementara mesin penggerak ekonomi yang menjadi andalan Tiongkok di masa lalu seperti sektor properti, otomotif, ekspor-impor, penarikan investor asing oleh daerah (hutang daerah), dan lain-lain, hampir tidak ada satu pun yang dapat dilanjutkan, ini harus segera dilakukan transformasi.”

Agar rakyat hidup lebih baik

Pemberitaan Harian Southern Daily menyebutkan, anggota DPRD Provinsi Guangdong, Zhu Lieyu, menyatakan dia menginginkan pertumbuhan PDB namun lebih mendambakan kesejahteraan. Dia telah mengajukan penghapusan data statistik PDB pada DPRD Provinsi Guangdong, dan menggantikannya dengan data statistik indeks kesejahteraan, pada akhirnya pertumbuhan PDB bertujuan rakyat dapat hidup dengan lebih baik dan layak.

China Business Times pernah memaparkan artikel yang ditulis Wei Wenbiao berjudul “PDB RRT Lampaui Jepang, Namun Tidak Membuat Sejahtera”. Artikel tersebut menjelaskan karena sistem penilaian pemerintahan RRT saat ini hanya menganut paham PDB sebagai tolok ukur, tidak sedikit pemerintah daerah dan pejabat yang hanya mengejar pertumbuhan angka ekonomi saja, mereka tidak segan-segan mengorbankan lingkungan mereka demi mengejar keuntungan ekonomi sesaat, sehingga mengakibatkan kualitas hidup masyarakat mengalami kerusakan. Sejumlah pemerintah daerah dan pejabat bahkan terus mendorong kenaikan harga properti, demi peningkatan angka ekonomi, sehingga mengakibatkan standar perumahan sulit diperbaiki.

Di bawah paham PDB absolut seperti saat ini, sejumlah pemerintah daerah dan pejabat telah mengabaikan perkembangan sektor usaha di tengah masyarakat, yang mengakibatkan ketimpangan perkembangan ekonomi masyarakat, pendidikan, pengobatan, dan kemacetan perkembangan sarana umum lainnya, perkembangan sektor usaha yang menjamin kehidupan masyarakat pun melambat. Kondisi tersebut secara langsung berdampak pada kualitas hidup masyarakat, menghambat perbaikan kualitas kehidupan masyarakat, sehingga tidak sedikit rakyat yang merasa tidak senang melihat tingkat pertumbuhan angka PDB tersebut.

Rugikan generasi penerus

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Beijing, Xia Yeliang, mengatakan pada VOA (Voice of America), pertumbuhan ekonomi RRT sepenuhnya bergantung pada investasi besar yang tidak berkesinambungan. Ia juga menekankan, yang diperhatikan oleh rakyat dan para ekonom adalah rata-rata PDB per kapita.

Profesor Xia Yeliang mengatakan, “Negara yang mengeksplorasi semua sumber dayanya, dalam jangka pendek dapat mencapai kenaikan yang sangat tinggi. Namun konsekuensinya, tidak hanya melihat hasil produksi, tapi juga modal produksi yang dikeluarkan. Modal produksi tidak hanya mencakup bahan baku industri dan sumber daya yang digunakan secara berlebihan, lebih jauh mengambil sumber daya yang semestinya ditinggalkan untuk anak cucu sebagai generasi penerus. Masalah kedua, kita menciptakan polusi lingkungan yang sangat besar terhadap air, udara, dan tanah, mengakibatkan kerusakan yang amat serius. Konsekuensinya, di masa mendatang kita harus menginvestasi dana yang berlipat-ganda baru dapat memperbaiki sebagian dari kerusakan.

Oleh karena itu, Profesor Xia Yeliang berpendapat, jika kita mengacu pada PDB Hijau atau indeks perkembangan yang berkesinambungan untuk memperkirakan nilai ekonomi, maka kita mungkin akan mendapati pertumbuhan PDB di RRT minus.

PDB tidak mewakili kebesaran

Seorang dosen Sekolah Partai Pusat PKT, Profesor Zhou, pernah menyatakan sama sekali tidak ada yang perlu dibanggakan dari nilai PDB RRT yang melampaui Jepang itu. Apalagi PDB RRT itu mengandung banyak unsur rekayasa, berapa pun hasilnya bisa dimanipulasi, bahkan PDB dapat direkayasa melampaui AS, hanya saja kalau sudah terlalu besar, PKT merasa segan jika sampai melampaui AS. Pertumbuhan PDB RRT sangat rendah efisiensinya, bahkan tidak efisien sama sekali, mengorbankan lingkungan hidup, menjual tanah, penggusuran, menghabiskan sumber daya yang seharusnya diwariskan pada generasi penerus kita. Ia berpendapat, semakin tinggi PDB, akan semakin membahayakan RRT.

Profesor Zhou juga berpendapat, angka PDB tinggi tidak dapat mengindikasikan bahwa RRT sangat kuat. Ia mengatakan, pada 1936 sebelum perang meletus di seantero Tiongkok, angka PDB Republik Tiongkok waktu itu dua kali lipat dari Jepang, lantas apakah menjadikan Tiongkok negara kuat?

Menurut data yang ada, sebelum masa Dinasti Qing, nilai ekonomi RRT menempati urutan pertama di dunia, rata-rata PDB perkapita juga berada diperingkat atas. Pada 1949, setelah mengalami penderitaan berat akibat perang melawan Jepang dan perang saudara, PDB Tiongkok masih tetap tinggi yakni dua kali lipat dari Jepang.

Rakyat pikul 3 beban raksasa

Securities Times edisi November 2010, memuat opini yang menyebutkan tingginya pertumbuhan PDB dan penerimaan pendapatan pemerintah, serta PDB RRT yang jauh melampaui Jepang, namun rakyat yang berpenghasilan rendah justru menanggung 3 beban raksasa baru, yakni perumahan, pendidikan, dan pengobatan. Negara yang kaya dengan rakyatnya yang miskin, jika dibandingkan dengan AS, yang merupakan negara miskin dengan rakyat yang kaya, tetap saja merupakan kesenjangan besar yang terus membebani pikiran masyarakat.

Shenzhen Special Zone Daily juga pernah memuat opini yang menyebutkan PDB RRT meningkat, namun kualitas kehidupan rakyatnya justru menurun. Artikel itu menyebutkan, jika pertumbuhan PDB bukan berasal dari peningkatan kemampuan produksi dan pendapatan yang sesungguhnya, melainkan pendapatan semu akibat mencetak uang secara berlebihan, maka indeks kesejahteraan akan bergerak ke arah yang berlawanan.

Tahun lalu hanya dengan uang 2 RMB, sudah dapat membeli 4 buah apel, kini dengan uang sebesar 4 RMB hanya bisa menikmati 2 buah apel. Dengan memperkirakan jumlah pendapatan tetap seperti saat ini, meskipun PDB meningkat, namun kualitas hidup justru semakin merosot.  (Li Ming / The Epoch Times / lie)

(Sumber: Epochtimes.or.id, Rabu, 23 Febuari 2011)

http://www.epochtimes.co.id/internasional.php?id=1015

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: