China Khawatir Demo

Polisi menindak demonstrans

AP PHOTO/EUGENE HOSHIKO

Seorang pria (ketiga dari kiri) ditahan polisi di depan sebuah bioskop, yang direncanakan sebagai tempat protes di Shanghai, China, Minggu (20/2). Penguasa China yang khawatir langsung unjuk kekuatan memberantas ajakan misterius di dunia maya untuk menggelar Revolusi Melati, meniru gelombang demonstrasi prodemokrasi yang kini melanda Timur Tengah dan Afrika Utara.

Beijing, Minggu – Pihak berwenang China, Minggu (20/2), menanggapi serius ajakan yang disebarkan melalui internet di seluruh China untuk melakukan ”Revolusi Melati”. Revolusi ini meniru model demonstrasi prodemokrasi di Timur Tengah dengan melakukan unjuk kekuatan.

Pemerintah menahan para aktivis, meningkatkan jumlah polisi di jalan, dan menyensor imbauan lewat internet untuk menggelar demonstrasi-demonstrasi di Beijing, Shanghai, dan 11 kota besar lainnya.

Dalam ajakan unjuk rasa itu, warga dianjurkan menyerukan ”Kami ingin makanan, kami ingin kerja, kami ingin perumahan, kami ingin keadilan”. Slogan itu menekankan keluhan umum di kalangan warga biasa di China.

Banyak aktivis mengatakan, mereka tidak tahu siapa di belakang kampanye untuk menggelar protes. Ajakan itu pertama kali dipasang dalam situs web berbahasa China, Boxun.com, yang berbasis di AS.

Pemerintah China tampaknya khawatir oleh demonstrasi dalam beberapa pekan terakhir ini yang terjadi di Mesir, Tunisia, Bahrain, Yaman, Aljazair, dan Libya. Pemerintah China sangat membatasi laporan media mengenai unjuk rasa itu dengan menekankan pada instabilitas yang disebabkan oleh aksi protes di Mesir. Mereka membatasi pencarian internet agar rakyat tidak mendapat informasi soal kerusuhan itu.

Imbauan untuk melakukan protes di China itu tampaknya tidak mendapat banyak sambutan di kalangan warga. Hanya sedikit warga yang menuruti ajakan itu. Pada akhirnya, kumpulan sedikit orang di Beijing dan Shanghai itu malah menjadi unjuk kekuatan tekad Pemerintah China untuk memadamkan tentangan apa pun terhadap kekuasaan Partai Komunis.

100 orang

Di Jalan Wangfujing, pusat perbelanjaan di Beijing, sekitar 100 orang berkumpul di depan restoran McDonald’s, yang disebutkan sebagai salah satu tempat protes dalam pesan itu.

Kelompok orang itu dibubarkan oleh polisi yang mengusir mereka. Liu Xiaobai (25) dihentikan oleh polisi setelah dia meletakkan sebuah bunga melati di sebuah pot di depan restoran itu dan mengambil foto dengan ponselnya.

Menjelang demonstrasi yang dianjurkan itu, lebih dari 100 aktivis prodemokrasi dan hak asasi manusia di seluruh China ditahan polisi, tak bisa keluar rumah, atau hilang, seperti dilaporkan Pusat Informasi HAM dan Demokrasi yang berbasis di Hongkong.

Tidak ada laporan unjuk rasa di kota lain, seperti Guangzhou, Tinajin, Wuhan, Chengdu, Lanzhou, dan Harbin, yang juga dijaga ketat oleh polisi.

Boxun.com mengatakan, situs internetnya diserang hacker setelah memasang imbauan itu.

Imbauan untuk Revolusi Melati itu terjadi setelah Presiden China Hu Jintao berpidato di depan para pejabat tinggi, Sabtu, meminta mereka ”mengatasi masalah-masalah menonjol yang akan membahayakan keselarasan dan stabilitas masyarakat”.

(AP/Reuters/DI)

(Sumber: Kompas, 21 Februari 2011)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: