China dan Kita

I WIBOWO

China baru-baru ini mengungkapkan kemarahan kepada Amerika Serikat sehubungan dengan laporan tahunan Pentagon tentang militer China. Disebutkan bahwa China kini menjadi ”ancaman” di Asia Timur, terutama Taiwan. Bukti yang dikemukakan adalah kenaikan anggaran pertahanan China yang terus naik dari tahun ke tahun (Kompas, 27/3).

Tentu saja Pemerintah China menolak tuduhan tersebut dengan mengajukan argumen bahwa pengeluaran sebesar itu masih pada tahap wajar untuk sebuah negara sebesar itu. Namun, AS masih membalas bahwa China sangat mungkin mengeluarkan anggaran yang lebih besar lagi karena China dianggap tidak transparan dalam hal yang satu ini.

Sebelum itu, hubungan China-AS sempat memanas ketika kapal-kapal China pada 10 Maret 2009 memergoki kapal mata- mata AS, USNS Impeccable, di Laut China Selatan. China menuduh AS telah memasuki wilayah perairan mereka, sementara AS membela diri dengan mengatakan bahwa kapalnya masih berada di wilayah internasional. Situasi juga memanas, masing-masing melemparkan tuduhan dan kecaman.

Sengketa di Laut China Selatan tidak sampai meluas, tetapi hal ini memperlihatkan bahwa China mempunyai hak yang harus diakui di Luat China Selatan. AS perlahan-lahan—suka tidak suka—harus menerima kenyataan ini.

Sehari sesudah insiden dengan AS, China memprotes Filipina yang mengesahkan undang-undang perbatasan laut, yang mencakup Kepulauan Spratly (Nansha). Akibatnya, rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Gloria Macapagal-Arroyo dan Sekretaris Jenderal Parlemen China Li Jianguo ditunda sampai waktu yang tidak terbatas.

Disegani dan ditakuti

China perlahan-lahan telah memperlihatkan diri sebagai sebuah kekuatan yang harus diperhitungkan, terutama di Asia Timur (Timur Laut plus Tenggara). Proses ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan George W Bush, yang memberikan perhatian lebih besar pada Timur Tengah. Selama delapan tahun China dapat dikatakan mengembangkan baik soft power maupun hard power yang dimilikinya. China menjadi kekuatan yang serentak disegani dan ditakuti.

Negara-negara di Asia Timur kini harus berhati-hati dalam (1) berhubungan dengan Taiwan, (2) berhubungan dengan Falun Gong, dan (3) berhubungan dengan Dalai Lama. China akan memakai imbauan, seruan, protes, hingga ancaman kepada negara-negara yang melanggar ketiga hal itu.

Laut China Selatan memang sedang dipetieskan. Tetapi hal ini juga tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja kalau ada pihak-pihak yang berani mengutik-utiknya.

Sebuah artikel yang ditulis oleh Parag Kahnna di New York Times Magazine (27/1/2008) dengan jelas mengatakan bahwa dunia abad XXI akan dikuasai oleh Big Three, yaitu Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China. Negara-negara lain yang sering disebut emerging markets disebutnya sebagai second world yang bernasib menjadi tempat persaingan dan pertarungan Big Three tersebut.

Lebih jauh dikatakan bahwa tiap-tiap kekuatan itu akan beroperasi di wilayah mereka sendiri walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka juga akan saling menyusupi wilayah tersebut. Uni Eropa bergerak di Afrika dan Timur Tengah, Amerika di Amerika Utara dan Selatan, sementara China akan menancapkan kekuatannya (lunak maupun keras) di Asia Timur.

Analisis ini mirip dengan Robert Kagan, yang, kecuali Amerika, Eropa, dan China, masih memasukkan Rusia sebagai kekuatan, juga Jepang, India, dan Iran.

Dalam buku The Return of History and the End of Dreams (2008), Kagan menghitung, dunia akan dikuasai negara-negara itu. Negara-negara kecil lain tidak masuk hitungan. Tapi, baik Kahnna maupun Kagan sepakat bahwa pengaruh AS tidak lagi sebesar pada masa lampau. Amerika bukan lagi hegemon dunia walaupun masih berupa adikuasa (superpower).

Di sekitar Amerika ada yang disebutnya great powers yang tersebar di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah China, yang dilihat menjadi pemegang kekuatan nyata, kekuatan ekonomi maupun militer.

Sangat menarik dalam koran di China berbahasa Inggris, People’s Daily, hal ini sedemikian ditekankan dalam tulisan Liu Hongmei, The US Hegemony ends, the era of global multipolarity enters (26/2). Penulis tampak amat bergembira, bahkan merayakan, atas surutnya kekuatan maupun kekuasaan AS saat ini. Bagi China, AS adalah penghalang terbesar untuk mencapai kemajuan karena kritik dan kecaman yang beraneka ragam.

Sebuah buku yang saat ini sedang ”meledak” di China berjudul Zhongguo bu gaoxing (China Tidak Senang). Para pembaca mendukung ketidaksenangan para pengarang terhadap semua kata maupun perbuatan AS. Kalau kekuatan Amerika benar berkurang dan menyusut, bagi para pengarang ini, kinilah saatnya giliran China untuk berkiprah di Asia Timur. Mereka pun mengacu pada masa Pax Sinica, yaitu masa keemasan zaman Dinasti Tang pada abad ketujuh, ketika pengaruh China membentang seluas Asia Timur.

Norma baru

Secara struktural, dunia memang telah menjadi multipolar (entah tiga, entah enam). Untuk wilayah Asia Timur (timur laut maupun tenggara), China jelas- jelas akan menjadi hegemon regional yang akan menetapkan rezim internasional yang berlaku. Misalnya, East Asian Community yang saat ini sedang diendapkan sangat mungkin akan dihidupkan lagi dengan China sebagai pemimpinnya. Perlahan-lahan Asia Timur akan memakai mata uang China, renminbi, sebagai sarana transaksi internasional dengan segala implikasi politisnya. Indonesia sudah menyatakan mendukung gagasan ini.

ASEAN maupun Jepang perlahan-lahan akan menjadi pemain biola kedua dalam konstelasi baru ini. Sementara itu, di Asia Tenggara, China saat ini sudah berhasil menancapkan pengaruhnya sehingga negara-negara anggota ASEAN tidak bisa berkutik ketika harus menghadapi kasus Myanmar. Keberhasilan pembangunan China diam-diam dijadikan acuan, bahkan norma, bagi negara-negara lain.

Indonesia saat ini dianggap sebagai pemain yang minor atau mungkin sebagai nonplayer sama sekali. Dalam beberapa ulasan ilmiah tentang hubungan internasional (Kahnna maupun Kagan, misalnya), Indonesia tidak pernah disebut-sebut. Namun, China kelihatannya masih memperhitungkan Indonesia, dengan mengikatkan diri dalam hubungan strategic partnership (sejak 2005). China memang memerlukan Indonesia sebagai sumber bahan mentah, mengingat posisi geografis Indonesia yang dekat dengan China. Di samping itu, pengiriman dari Indonesia tidak usah melewati Selat Malaka yang berbahaya itu.

Meski demikian, China kiranya juga melihat bahwa Indonesia masih memerlukan waktu yang amat lama untuk menjadi pemain yang bisa diperhitungkan. China saat ini masih bisa menekan Indonesia untuk tiga hal yang disebutkan di atas (Taiwan, Dalai Lama, Falun Gong), suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada AS atau Uni Eropa. Beruntung Indonesia dan China tidak bersinggungan di Laut China Selatan walaupun Kepulauan Natuna nyaris menjadi bahan sengketa.

Sambutan hangat

China sebenarnya sudah tanggap akan ”ketakutan” yang mungkin timbul di antara tetangga-tetangganya. Pada tahun 2003 China pernah mengeluarkan sebuah pernyataan heping jueqi (bangkit dengan damai), yang mencoba untuk menyingkirkan perasaan negatif itu. Pernyataan ini mendapat sambutan hangat dari tetangga-tetangganya dan juga seluruh dunia. Kebangkitan China pada bidang ekonomi tidak akan menimbulkan ancaman bagi tetangga-tetangga dan dunia.

Namun, heping jueqi dinilai oleh para petinggi militer kurang cocok dengan kondisi China, terutama sehubungan dengan masalah Taiwan yang belum selesai. Maka, diciptakan pernyataan baru, heping fazhan (perkembangan yang diliputi damai), dan diresmikan pada Kongres Nasional XVII Partai Komunis China pada 2007. Ini diiringi dengan pernyataan tentang heping shijie (dunia yang damai), keinginan China untuk membangun dunia yang damai. Namun, sambutan dari negara-negara di luar China tidak seantusias seperti saat heping jueqi dilontarkan.

Dalam menghadapi kebangkitan China, Indonesia kiranya memerlukan visi yang jelas. Kebangkitan China sebagai ”hegemon regional” adalah suatu hal yang tidak terelakkan. Dalam banyak hal, kita harus mulai menyesuaikan diri dengan kehendak China. Sejauh mana kita mau menyesuaikan diri? Dalam hal apa saja menyesuaikan diri? Sering disebut-sebut tiga strategi (counterbalancing, bandwagoning, hedging), tetapi perlu kiranya ditemukan kemungkinan keempat yang lebih cocok dengan kondisi Indonesia dan kondisi internasional.

I Wibowo Ketua Centre for Chinese Studies, FIB UI

(Sumber: Kompas, 21 Apr 2009)

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: