Reformasi Politik China

Oleh: Fadjar Pratikto*

Opini Koran Tempo, 30 Oktober 2007

Sebuah reformasi politik dalam skala terbatas telah dilakukan oleh Presiden China Hu Jintao. Sejumlah pimpinan China generasi tua, lengser dari keanggotaan lembaga tertinggi partai, Komite Pelaksana Politbiro Partai Komunis China (PKC). Keputusan tersebut dihasilkan diakhir Kongres PKC Ke-17. Beberapa nama yang merupakan generasi baru mulai mengisi kursi Politbiro. Sebuah langkah perombakan elite partai yang sudah diperkirakan sebelumnya.

Perombakan tersebut tentu cukup signifikan dalam konstelasi politik nasional China. Bukan saja semakin memperkuat posisi Hu Jintao dalam mengamankan kekuasaannya sampai lima tahun ke depan, tetapi juga ada secercah harapan akan terjadinya reformasi politik yang lebih luas. Sebagai Ketua PKC sekaligus ketua Komisi Militer, Hu memiliki kesempatan besar untuk menentukan arah reformasi politik tanpa reserve dari lawan politiknya di partai.

Generasi Baru
Sebelum Kongres PKC ke-17, ada anggapan bahwa kekuasaan Hu Jintao dibayang-bayangi oleh pendahulunya (mantan Presiden Jiang Zemin) yang masih berpengaruh kuat di partai dan pemerintah. Wakil Presiden Zeng Qinhong (68), Kepala Komite Disiplin PKC Wu Guanzheng (69), Kepala Keamanan PKC Luo Gan (72), dan Wakil Perdana Menteri Wu Yi, yang dijuluki Wanita Besi, yang pensiun dari Politbiro dikenal sebagai orang dekat Jiang. Zeng Qinhong bahkan dianggap sebagai pesaing berat Hu dalam pengaruh politik.

Selama ini, mereka mengendalikan kekuasaan yang sangat besar. Pengaruh Zeng terlalu kuat, dialah yang mengontrol asset dan kader partai. Wu Guanzheng, pejabat yang bertanggung jawab atas kedisiplinan partai, dan Luo Gan selaku ketua komite politik dan undang-undang yang bertanggung jawab atas keamanan nasional dan merupakan operator penindasan warisan Jiang terhadap kelompok-kelompok politik dan spiritual termasuk salah satu korbannya adalah pengikut Falun Gong, serta yang mengendalikan pers dan internet.

Dikikisnya sisa-sisa klik Jiang tersebut, telah melengkapi pembersihan yang dilakukan oleh Hu Jintao sebelumnya. Menjelang Kongres, Menteri Keuangan Jin Renqing yang juga dekat dengan Jiang diberhentikan meski berita resmi menyebutkan dia mundur karena alasan wanita simpanan. Sesungguhnya dia sedang menghadapi investigasi atas perannya dalam memobilisir uang negara untuk menindas Falun Gong. Sebanyak triliunan Yuan uang negara disalahgunakan demi politik Jiang itu. Jauh sebelumnya Sekretaris PKC Shanghai, Chen Liangyu yang dekat dengan Jiang, juga diadili karena kasus korupsi.

Kini, generasi baru pemimpin China masa depan telah dipilih untuk mengantarkan proses transisi kekuasaan pada 2012. Dua kader Hu, Li Kegiang (52), Ketua PKC Provinsi Liaoning; dan Xi Jinping (54), Ketua PKC Shanghai masuk di jajaran Politbiro. Kepala organisasi partai, He Guoqiang dan Menteri Keamanan Publik, Zhou Yongkang, adalah dua anggota baru lainnya. Presiden Hu Jintao sendiri, menjanjikan persatuan politik dan modernisasi.

Demokrasi Semu
Pada awal September lalu, Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan pada Forum Ekonomi Dunia di Dalian, China bahwa negara itu harus mendorong reformasi politik dan demokrasi. Jika tidak, reformasi ekonomi akan menjadi sia-sia. Namun reformasi politik yang dimaksudkan itu tetap dalam perspektif ideologis “harus mengikuti arah politik dan kepemimpinan partai”, serta dengan tegas menolak demokrasi Barat. Hu Jintao pernah menegaskan “demokrasi ala China” sebagai satu-satunya jalan menuju masyarakat ideal.

Liberalisme ekonomi yang dicanangkan ternyata tidak mampu merubah bagunan politik monolitik.Argumen pemikiran determinisme ekonomi tak terbukti dalam konteks China masa kini. Faktor politik di bawah PKC menjadi penentu, dan kondisi ekonomi merupakan hal yang dipengaruhi. Pertumbuhan ekonomi di bawah panglima partai, membuat China menjadi “Raksasa Baru”—terlepas kelemahan fundamental ekonominya. Hal mana relevan dengan model “Negara Lunak” (Soft State Model) yang dikembangkan Gunnar Myrdal (1968), semakin otoriter suatu rejim, akan semakin cepat pertumbuhan ekonominya.

Ekonomi politik yang dikembangkan China dengan model rejim Etatisme Kapitalis, meski berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas nasional yang kuat, namun mengabaikan hak asasi dan hak politik rakyatnya. Konsekuensinya pembangunan ekonomi justru telah mempertajam kesenjangan sosial, pelanggaran HAM, dan kemiskinan. Disatu sisi, kota-kota pesisir melambung tinggi dengan bangunan- yang megah dan pendapatan yang meningkat, sementara di pedesaan mayoritas warganya hidup dalam kemiskinan. Tidak heran jika konflik sosial semakin luas selama beberapa tahun ini.

Sikap represif penguasa China terhadap lawan-lawan politiknya dan kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya justru bertentangan dengan semangat reformasi politik pasca kongres. Apalagi pers sebagai salah satu pilar demokrasi sangat dikekang, ternasuk sensor terhadap internet dan SMS. Selama penguasa China tidak memberi kebebasan berserikat dan pers, serta melakukan pelanggaran HAM lainnya, reformasi politik yang dilancarkan oleh Hu hanyalah bersifat semu, dan itu justru akan menjadi bumerang bagi kepemimpinannya. Kekecewaan para aktivis dan ketidakpuasan rakyat China selama ini adalah indikasinya.

Di tengah tekanan dunia internasional yang menguat menjelang Olimpiade 2008 akibat buruknya kondisi HAM– diantaranya kasus pengambilan organ praktisi Falun Gong, adanya gerakan Obor HAM Estafet Global, serta membesarnya arus mundur dari keanggotaan PKC yang kini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 27 juta orang, mau tidak mau pemimpin China mesti mereformasi sistem politiknya. Bagaimanapun kekuatan ekonominya tidak akan membuatnya bergejolak jika mengadopsi prinsip pluralisme dan demokrasi. Sistem multipartai bahkan terbukti menjadi kekuatan supra-struktur negara-negara maju. Inilah momentum bagi Hu untuk meninggalkan sistem partai tunggal.

———————
* Penulis adalah pengamat China, relawan di Global Human Rights Efforts (GHURE)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: