Gelembung Ekonomi China Siap Pecah

WASHINGTON – Bank Dunia memperingatkan potensi gelembung (bubble) dalam perekonomian China. Kenaikan harga properti, seperti yang pernah terjadi di AS, sedang dialami oleh China dan berpotensi mengancam perekonomian.

“Kami melihat tanda-tanda adanya gelembung ekonomi di China yang berpotensi menyebabkan tekanan. Bubble tersebut terutama datang dari sektor properti, khususnya perumahan,” kata Kepala Bidang Proyeksi Ekonomi Makro Bank Dunia Andrew Burns di Washington, Jumat (22/1).

Apa yang terjadi di China, lanjut Burns, mengingatkan ke pada asal mula krisis keuang an global yang berpusat di AS. Pada penghujung 2007, harga properti runtuh dan menyebabkan kebangkrutan berbagai lembaga keuangan.

Namun, para pengamat masih memperdebatkan apa yang terjadi di China. Sebagian mengatakan lonjakan harga properti sudah bisa dinilai sebagai bubble.

Namun sebagian lain mengatakan bahwa kenaikan harga properti merupakan dampak dari akselerasi pertumbuhan ekonomi, sehingga tidak dianggap sebagai bubble. Pada 2009, Bank Dunia mem perkirakan China akan me ngalami pertumbuhan ekono mi sebesar sembilan persen.

Pertumbuhan China membuat rata-rata pertumbuhan global yang diperkirakan 2,7 persen menjadi begitu rendah. Direktur Bank Dunia Hans Tim mer mengatakan, China me mang mengalami situasi yang rentan karena stimulus fiskal yang berlebihan.

Pada 2009, China menganggarkan dana stimulus fi skal sebesar 586 miliar dollar AS. “Kami melihat China akan mengalami situasi rawan, karena stimulus yang terlalu besar.

Namun pemerintah China pasti sudah menyadari risiko ini,” kata Timmer. Kepala Komisi Regulasi Perbankan China Liu Mingkang mengatakan, China kemungkinan akan sedikit meredam penyaluran kredit setelah begitu ekspansif pada tahun lalu. Pada 2009, penyaluran kredit di China mencapai 26 terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, pengamat ekonomi Indef Ahmad Erani Yus tika mengatakan, pengelola an ekonomi di China cukup kre dibel sehingga kemungkinan un tuk terjadinya bubble cukup kecil.

“Sebaiknya Bank Dunia me ngontrol AS, karena mereka yang seringkali membuat ulah dan menyebabkan krisis,” tegas dia.

China, lanjut Erani, selama ini melakukan pengelolaan ekonomi dengan cukup hatihati (prudent), meskipun bukan berarti tanpa kelemahan. “Di sektor properti, China melakukan prosedur secara benar, tidak mengenakan bunga yang tinggi seperti kasus subprime mortgage di AS,” kata dia.

(Sumber: Koran Jakarta, Sabtu, 23 Januari 2010)

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: