Faksionalisme Menjelang Peralihan Generasi

A. Dahana, GURU BESAR STUDI CINA UNIVERSITAS INDONESIA

Cina mempraktekkan otoritaria nisme. Dalam sistem seperti itu hanya ada satu organisasi politik sebagai penguasa tunggal. Itulah yang namanya Partai Komunis Cina (PKC). Karena sifatnya yang otoriter itu, setiap bentuk perlawanan, baik dengan kekerasan maupun hanya dengan kata-kata, baik dari dalam maupun dari luar partai, akan dibabat habis. Tapi, bagaimanapun, pertentangan selalu ada, walaupun tak kasatmata. Itu terutama terjadi menjelang pergantian kepemimpinan atau ketika seorang pemimpin yang dominan, biasanya karena usia, sakit, atau dipaksa, mengakhiri masa kepemimpinannya.

Melihat gejala faksionalisme tidak akan pernah hilang walaupun dalam sebuah partai penguasa tunggal, lalu bagaimana konstelasi kekuatan menjelang Kongres PKC ke-18? Kongres akan diselenggarakan pada 2012, ketika Hu akan meletakkan jabatan dan memilih pengganti. Pada waktu itulah generasi kelima pimpinan Cina akan memegang tampuk kepemimpinan partai dan negara, dan pada waktu itu pula keanggotaan seluruh aparatus terpenting dari partai penguasa tunggal itu, dari Komite Sentral, Politbiro, dan sampai Komite Tetap Politbiro, akan berubah.

Dewasa ini dalam lingkaran PKC terdapat dua aliran besar yang akan berlaga pada 2012 nanti. Faksi pertama populer dengan sebutan kaum
populis dan sering dihubungkan dengan Hu Jintao, presiden/ketua partai, tokoh yang tengah berkuasa sekarang. Sekutu utamanya adalah Liga Komunis Muda (LKM), organisasi yang tugas utamanya mendidik para belia yang memiliki bakat dan menggodok mereka untuk menjadi pemimpin nasional. Karena itu pula orang Cina memberikan julukan Faksi Liga (tuanpai) untuk faksi ini. LKM dekat dengan Hu karena, selama dasawarsa 1980an, ia pernah memimpin organisasi itu.

Asas yang dianut tuanpai adalah memperkuat dan mengkonsolidasikan kekuasaan kepemimpinan pusat, mempertahankan stabilitas sosial, berusaha mendistribusikan hasil pembangunan guna mengentaskan masyarakat miskin, melenyapkan perbedaan mencolok daerah maju-daerah terbelakang, serta melenyapkan segala penyakit sosial yang timbul sebagai dampak negatif dari pembangunan ekonomi yang begitu dahsyat. Gagasan ini muncul dari buah pikiran Hu yang kemudian dikonsepkan menjadi strategi guna merealisasi “masyarakat harmonis”. Itulah yang menjadi obsesi Hu Jintao.

Kelompok ini telah tumbuh dengan kuat berkat peran Hu Jintao sebagai patron. Dengan kedudukannya sebagai kepala negara dan Ketua PKC, Hu telah mempromosikan banyak tokoh jebolan LKM ke posisi-posisi strategis dalam partai dan pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah. Deretan nama-nama yang berafiliasi dengan faksi ini antara lain Li Keqiang (sekarang Wakil Perdana Menteri), diikuti oleh nama-nama lain. Mereka itu berpotensi untuk duduk dalam Politbiro PKC yang hanya beranggotakan sembilan orang. Mereka itulah sembilan orang paling berkuasa di Cina yang menentukan arah kebijakan negara dan partai.

Kaum populis harus berhadapan secara konseptual dengan golongan yang disebut elitis atau sering kali mendapat julukan “Klik Shanghai”(Shanghai Pai atau Shanghai Tuan). Aliran ini sering dihubungkan dengan Jiang Zemin, mantan presiden/Ketua PKC yang mengambil
alih kepemimpinan dari Deng Xiaoping. Gagasan mereka yang utama adalah untuk tetap mempertahankan dan malah kalau mungkin menginjak gas pertumbuhan ekonomi di mana wilayah-wilayah pesisir harus tetap menjadi motornya. Mereka juga menginginkan restrukturisasi konomi demi memperkokoh kekuatan di tengah kompetisi global yang begitu keras dan tak kenal ampun, dan mengurangi ketidakefisienan. Untuk itu, mereka tak peduli apabila untuk sementara masih ada segmen dalam masyarakat dan wilayah Cina yang tertinggal dalam berbagai bidang. Demi menempatkan Cina berada di garis terdepan kompetisi ekonomi global, para elitis tak segan-segan bekerja sama dengan lembaga dan badan-badan internasional.

Termasuk ke dalam kaum elitis ini adalah para putra, putri, cucu dan kerabat dari pejabat-pejabat tinggi serta pendiri RRC dan PKC. Mereka itulah yang oleh para analis Barat disebut sebagai taizi, yang telah memperoleh pendidikan dan posisi baik da lam pemerintahan maupun dalam partai melalui koneksi (guanxi). Klik Shanghai dan para taizi itu diperkuat oleh tokoh-tokoh beraneka ragam dari kalangan birokrasi, menteri, teknokrat, serta para reformis, baik di pusat maupun di provinsi. Anggota terkemuka dari kaum elitis ini yang punya kans untuk duduk dalam Politbiro adalah Xi Jinping dan tokoh-tokoh lainnya.

Yang menarik, rivalitas di antara kedua aliran ini punya latar belakang sejarah tersendiri. Cina adalah sebuah negara dengan wilayah yang begitu luas dan karenanya memiliki sifat geografis yang beraneka ragam. Dengan demikian, adanya suatu pemerintah pusat yang kuat di Utara merupakan suatu keniscayaan demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan politik. Namun, sepanjang sejarah, kesatuan politik ini sering terganggu dan dalam beberapa kasus malahan berkembang menjadi perpecahan. Itu terjadi karena beberapa wilayah memiliki ambisi dan kepentingan sendiri dan tak jarang, untuk mencapai hal ini, mereka tak segan bekerja sama dengan kekuatan luar.

Ketegangan antara kaum sentris dan golongan regionalis di masa lalu ini telah menimbulkan pertentangan antara Utara, yang berpusat di Beijing, dan Selatan, yang dimotori oleh Shanghai. Dalam nuansa modern, pertentangan ini ditandai oleh perbedaan gagasan antara Hu Jintao dan Jiang Zemin, seperti tecermin dalam dikotomi para populis versus elitis.

Melihat konstelasi kekuatan politik seperti yang dicerminkan di atas, bagaimana susunan pimpinan partai/negara pada 2012 yang akan datang? Bisa disimpulkan bahwa tak akan banyak perubahan besar dan karenanya sistem kepemimpinan kolektif akan berlanjut. Alasan utamanya, perbedaan pandangan di antara kedua kubu itu tidak antagonistik. Mereka akan memegang kekuasaan berdasarkan kompromi. Karenanya, akan ada negosiasi yang dilakukan dengan sangat hati-hati guna mencegah ketakseimbangan kekuatan di antara kedua faksi tersebut dan agar tak terjadi kontradiksi yang antagonistik.

Itu tak berarti bahwa perbedaan mengenai kebijakan akan lenyap. Namun ketaksepahaman itu tak akan terlihat publik dan akan diperdebatkan secara tertutup. Adanya perbedaan pendapat itu kadangkadang terungkap oleh pernyataan pejabat tingkat menengah atau rendah, atau dalam editorial koran corong pemerintah, seperti Renmin Ribao atau Guangming Ribao. Dan biasanya kompromi akan tercapai lewat negosiasi yang didiskusikan dengan sangat hati-hati dan penuh rahasia.

Itu dilakukan lantaran generasi kelima kepemimpinan pada dasarnya sepaham dalam arah kebijakan ekonomi dan politik sejak sekitar 30 tahun silam. Perbedaan pendapat hanya ada dalam cara bagaimana mencapai tujuan itu. Mereka juga sama-sama setuju tentang kebijakan negara dalam arah pembangunan yang berorientasi pada perekonomian global, di samping juga perlunya reformasi struktural birokrasi.

Namun, yang paling penting barangkali adalah pengalaman bersama mereka dari awal sampai dewasa ini. Pada masa remaja, dalam dasawarsa 1960-an dan 1970-an, mereka telah menjadi korban dari sistem politik radikal Revolusi Kebudayaan.Tak sedikit di antara mereka yang dilempar ke pedesaan untuk melakukan kerja rodi di bawah slogan Maois “mengabdi kepada rakyat”(wei renmin fuwu). Mereka sadar betul bahwa pengalaman buruk mereka terjadi sebagai akibat dari perpecahan di kalangan para pemimpin. Pengalaman menghadapi peristiwa Tiananmen 1989, ketika kepemimpinan PKC terpecah, memperkuat kesadaran akan perlunya persatuan.Tapi, yang utama, keberhasilan generasi kelima itu menduduki posisinya seperti sekarang adalah berkat keberhasilan reformasi.

Ada kecenderungan kekuatan politik akan condong ke Klik Shanghai atau faksi elitis. Pada 18 Oktober lalu, Komite Sentral PKC telah menunjuk Xi Jinping menduduki posisi sebagai salah satu Wakil Komisi Militer Pusat. Itu memberi indikasi bahwa Xi, yang sekarang menjabat wakil presiden, pada 2012 nanti akan menggantikan Hu Jintao menduduki kursi presiden. Ia adalah seorang daizi, putra Xi Zhongshun, salah satu veteran pejuang komunis yang pada masa rangkaian kampanye politik disingkirkan oleh Mao. Namun tampaknya naiknya Xi tak bakal mengubah arah kebijakan Cina atau, kata orang sono, yang akan terjadi adalah business as usual.

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/11/03/ArticleHtmls/03_11_2010_011_003.shtml?Mode=1

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: